Rona Mentari berharap karya kolaboratif tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mampu mendorong kesadaran lingkungan yang lebih luas.
“Melalui pertunjukan mendongeng lintas budaya ini, kami berupaya menyuarakan respons terhadap krisis iklim global. Semoga bahasa universal dari cerita rakyat dapat menyentuh hati banyak orang dan menjadi pemantik lahirnya gerakan kolektif dalam menjaga bumi,” tuturnya.
Mengusung tema Folktales for the Living Earth, proyek ini menawarkan pendekatan berbeda dalam membicarakan krisis ekologi. Alih-alih hanya mengandalkan data dan fakta ilmiah, pertunjukan ini mengangkat nilai budaya, emosi, serta kebijaksanaan ekologis yang diwariskan melalui cerita rakyat dari kedua negara selama berabad-abad.
Selain menikmati pertunjukan dongeng yang diperkaya dengan Wayang Suket dan musik etnik secara langsung, para peserta juga diajak terlibat dalam sesi dialog interaktif.
Bagi masyarakat yang tidak sempat hadir secara langsung, seluruh rangkaian pertunjukan telah didokumentasikan dan akan ditayangkan secara daring melalui Storyteller for the Earth sehingga dapat diakses penonton dari dalam maupun luar negeri.
Melalui proyek ini, Rumah Dongeng Mentari berharap dapat terus menghadirkan ruang perjumpaan antara budaya, seni pertunjukan, dan kepedulian lingkungan. Storyteller for the Earth menegaskan bahwa cerita rakyat bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kompas hidup yang tetap relevan untuk memahami dan menghadapi tantangan zaman, termasuk krisis iklim yang dihadapi dunia saat ini.



















