Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Dua minggu terakhir, lima pantai di Tulungagung dipenuhi sampah usai dibukanya terowongan Niyama akibat debit air yang naik dari curah hujan tinggi. Meski begitu, saat ini Pemkab Tulungagung tengah memikirkan solusi permanen untuk mengatasi masalah tersebut.
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Tulungagung, Aris Wahyudiono mengatakan, belum menerima laporan resmi terkait sampah yang memenuhi lima pantai tersebut, imbas dari dibukanya terowongan Niyama yang disebabkan naiknya debit air Sungai Niyama selama hujan dua pekan terakhir.
Lima pantai yang dimaksud yakni Pantai Niyama, Pantai Sidem, Pantai Gemah, Pantai Bayem, dan Pantai Midodaren yang merupakan destinasi wisata pantai unggulan di Tulungagung. Adapun material sampah yang memenuhi bibir pantai tersebut meliputi ranting dan sampai rumah tangga.
Baca Juga :Tenaga Kebersihan Kena PHK, Komisi 2 DPRD Kota Blitar Rekomendasi Kembali Dipekerjakan
“Kalau laporan resminya kami belum dapat, tetapi masing-masing Pokdarwis dari kelima pantai itu sudah memberikan informasi jika memang kondisinya dipenuhi sampah imbas dibukanya terowongan Niyama,” kata Aris Wahyudiono, Senin (19/5/2025).
Lebih lanjut, sejak pagi tadi pihak Pokdarwis dari masing-masing pantai, Perum Jasa Tirta (PJT) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sudah melakukan pembersihan material sampah. Kegiatan pembersihan itu akan dilakukan setiap hari sampai pantai benar-benar bersih, mengingat hujan masih terus terjadi.
Pasalnya selama masih hujan, debit air Sungai Niyama akan tetap naik, sehingga terowongan Niyama akan tetap dibuka demi mencegah sungai di kawasan perkotaan Tulungagung meluap. Meski risikonya menyebabkan kelima lokasi wisata pantai unggulan di Tulungagung tersebut dipenuni sampah.
“Kami pastikan hanya bibir pantainya saja yang dipenuhi sampah, sedangkan untuk lokasi kawasan kulinernya tidak terdampak. Kami juga terus berkoordinasi dengan Pokdarwis untuk mengetahui kondisi terkini di kawasan pantai itu,” ungkapnya.



















