Jombang, SEJAHTERA.CO – Di bawah langit cerah Desa Miagan, ribuan warga tumplek blek memenuhi Alun-alun Cemara (AAC) pada Minggu pagi, 3 Agustus 2025. Suasana semarak menyelimuti ruang terbuka itu saat Miagan Umbrella Fest 2025 digelar, menandai dua tahun berdirinya AAC sekaligus merayakan semangat kebersamaan yang kian tumbuh subur di jantung Kecamatan Mojoagung, Jombang.
Baca Juga :Hari Jadi ke-701 Blitar Digelar Meriah, Rini Syarifah Tak Tampak di Peringatan Resmi
Diiringi tetabuhan khas dan tarian tradisional, sebanyak 25 kelompok dari berbagai RT di Desa Miagan tampil dalam kirab budaya payung. Payung bukan sekadar hiasan—ia menjelma simbol perlindungan, keharmonisan, dan keindahan yang menggambarkan semangat gotong royong warga Miagan. Masing-masing rombongan membawa ornamen dan kreasi unik, membentuk parade warna-warni yang memukau siapa pun yang menyaksikan.
“Ini bukan sekadar kirab budaya,” ujar Antok Budi Subagyo, Kepala Desa Miagan. “Ini embrio dari sebuah gerakan budaya yang besar. Kami ingin Miagan Umbrella Fest bisa masuk dalam kalender resmi Disporapar Jombang dan menjadi ikon budaya Mojoagung.”
Kirab diawali dengan ritual bersih desa, sebuah tradisi yang menyiratkan rasa syukur dan harapan akan keselamatan. Setelahnya, semangat warga meledak dalam flashmob kolosal dan deretan penampilan seni yang tak kalah mengesankan. Dari tari Remo oleh pelajar SMKN Mojoagung hingga Tari Payung dari Sanggar Paras Ayu, pentas AAC hari itu seperti panggung bagi segala bentuk kreativitas warga. Tak ketinggalan, para ibu-ibu senam AAC turut menyumbang semarak lewat gerakan energik dan penuh semangat.
Lebih dari sekadar pesta budaya, Miagan Umbrella Fest juga menjadi ruang penting bagi pelaku UMKM, seniman lokal, dan generasi muda untuk unjuk diri. AAC yang dulunya hanya alun-alun desa, kini berubah menjadi episentrum kegiatan warga dan lambang kemajuan partisipatif masyarakat.



















