Ponorogo, SEJAHTERA.CO – Ratusan ribu warga memadati ruas jalan protokol Ponorogo, Senin (15/6/2026) sore. Mereka rela berdesakan dan menunggu berjam-jam untuk menyaksikan kirab pusaka peninggalan Prabu Bathara Katong yang menjadi salah satu rangkaian tradisi menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram atau malam 1 Suro.
Baca juga:Grebeg Suro 2026 Siap Digelar, 31 Grup Reog Ramaikan Festival Nasional Reog Ponorogo
Kirab diawali dari kawasan kota lama di Desa Setono, Kecamatan Jenangan, menuju Rumah Dinas Bupati Pringgitan. Tiga pusaka utama yang diarak dalam prosesi tersebut adalah Payung Tunggul Wulung, Tombak Tunggul Nogo, dan Sabuk Angkin Cinde Puspita.
Selain itu, dua pusaka lainnya juga turut dikirab, yakni Tombak Kyai Pamong Among Geni dan Tombak Kyai Brama Geni. Arak-arakan pusaka bersejarah tersebut menjadi daya tarik utama yang menyedot perhatian masyarakat di sepanjang jalur kirab.
Setibanya di Paseban Alun-Alun Ponorogo, pusaka-pusaka tersebut kemudian dijamas menggunakan air yang diambil dari tujuh sumber mata air. Prosesi sakral itu menjadi bagian penting dari tradisi Grebeg Suro yang terus dilestarikan hingga saat ini.
Kirab pusaka juga memiliki nilai historis yang kuat. Tradisi tersebut menjadi simbol perpindahan pusat pemerintahan Ponorogo dari kawasan kota lama di Setono menuju pusat pemerintahan yang kini berada di kompleks Pemerintah Kabupaten Ponorogo. Jarak kedua lokasi itu sekitar lima kilometer.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo, Lisdyarita, mengatakan jamasan dan kirab pusaka bukan sekadar tradisi budaya, melainkan juga sarana untuk memanjatkan doa bersama dalam menyambut Tahun Baru Hijriah.



















