Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Delapan aksi konvergensi yang dilakukan Kabupaten Trenggalek dalam mengentaskan kasus stunting atau gagal tumbuh kembang pada anak membuahkan hasil positif. Lebih dari 500 anak setiap tahunnya dilaporkan mentas dari kasus stunting.
“Angkanya sudah menurun. Namun kita ingin terus optimalkan dengan berkolaborasi melibatkan semua elemen,” kata Ketua TP-PKK Trenggalek, Novita Hardini.
Dengan langkah bersama itu, prevalensi stunting di Bumi Menak Sopal turun menjadi 6,6 persen pada tahun 2023. Angka itu mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2022 sebesar 7,9 persen. Dengan kata lain, lebih dari 500 anak di Kabupaten Trenggalek terbebas dari stunting.
“Namun kita tidak boleh berpuas diri, kita terus berupaya untuk mewujudkan zero stunting di Kabupaten Trenggalek,” imbuhnya.
Merujuk data Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Trenggalek, tahun 2022 terdapat sebanyak 2.950 anak yang mengalami gagal tumbuh kembang. Namun pada tahun 2023, sebanyak 562 anak terbebas dari stunting kurun waktu setahun. Dengan kata lain, tahun 2023 terdapat 2.388 anak yang masih mengalami stunting.
“Ada banyak sebab terjadinya stunting. Mulai dari kurang optimalnya pemberian ASI eksklusif, sering kali terjangkit penyakit, hingga asupan makanan pendamping ASI yang kurang. Untuk itu, kami memberikan intervensi spesifik dan sensitif untuk menangani stunting dari lintas organisasi perangkat daerah,” ujarnya.



















