Langkah-langkah itu, lanjut Novita, mulai dari memberikan makanan tambahan, memastikan semua anak mengikuti imunisasi rutin, memantau berat badan, memastikan lingkungan yang bersih hingga air minum yang dikonsumsi. Termasuk intervensi pemberian makanan tambahan hingga optimalisasi tim pendamping keluarga bagi keluarga risiko stunting.
“Termasuk melakukan screening kepada calon pengantin. Mulai melihat gizinya dari lingkar jangkar lengan atas dan kiri, serta diberikan edukasi dan konseling saat hamil hingga mengatur jarak kehamilan. Yang penting juga adalah mencegah perkawinan anak,” jelasnya.
Langkah kesinambungan itu sukses menurunkan angka stunting. Bahkan angka tersebut sudah jauh di bawah prevalensi stunting nasional yaitu 21,6 persen dan prevalensi Jawa Timur 19,2 persen. Termasuk di bawah target pemerintah pusat yang mencanangkan angka prevalensi stunting nasional di bawah 14 persen pada 2024.
“Mari bersama kita wujudkan target zero stunting di Kabupaten Trenggalek,” pungkasnya.
Reporter : Angga Prasetya
Editor :



















