Tidak hanya itu, ia juga meminta bahwa harga harus sesuai dengan kesepakatan awal dua kali lipat dari harga umum.
“Kalau harganya permeter itu rendah dari tim appraisal itu sebesar Rp 5,2 juta,” bebernya.
Senada disampaikan, Saifudin, warga setempat mengaku, tim appraisal memberikan harga sebesar Rp 5,2 juta permeter. Harga tersebut lebih murah bila dibandingkan dengan harga jual pasaran di wilayahnya yang mencapai Rp 9 juta per meter.
Menurutnya, yang terdampak proyek jalan tol ada dua kelurahan yakni Bujel dan Mojoroto. Sejauh ini, belum ada pertemuan dari pihak terkait dan hanya ada pengajuan.
“Kami menolak karena sudah tahu nominalnya, kemarin belum tahu patokan di Kelurahan Semampir kita diam saja. Tetapi, semakin kesini harganya semakin menurun,” ucapnya.
Dia menyebut, belum ada tanggapan dari pihak terkait hingga saat ini mengenai apa yang diharapkan oleh warga. Bilamana harga nanti sepakat, Saifudin mengaku akan pindah di tempat lain dan kesulitan mencari lokasi yang berada di pinggir jalan.
Apalagi, di tempat tinggalnya saat ini telah memiliki usaha seperti menjual rokok, sembako, maupun lainnya. Karenanya, jika pindah tempat akan kembali seperti awal dulu.
“Saya harap keinginan dari warga tolong didengarkan aspirasinya, jangan seenaknya sendiri untuk memberikan harga kepada warga terdampak,” ungkapnya.
Reporter: Rizky Rusdiyanto



















