Pedagang beras lainnya yang harus pindah haluan menjadi pedagang jagung adalah, Soim, warga Bangsongan, Kecamatan Kayen Kidul.
Dia terpaksa jual beli jagung, karena gabah sulit dicari, selain harganya juga mahal. Untungnya juga masih kalah jika dibandingkan dengan bisnis jagung untuk saat ini.
“Ya lelih baik bakul jagung. Apalagi dukungan alam yang saat masih panas terik atau menyengat. Jagung setelah dijemur dua hari sudah bisa langsung dijual,” katanya, Senin (20/11).
Karena mulai panen raya, Soim pun sepertinya tidak kesulitan untuk mendapatkan jagung. Sepakan lalu dia sempat menghimpun hingga 20 ton jagung pipil kering tapi kini sudah dikirim ke pedagang yang lebih besar.
Soal harga, dia masih sempat membeli ke petani dengan harga Rp 6.200 perkilogram atau harga tertinggi bulan kemarin. Tapi saat ini harga mulai turun, mulai Rp 5.700 hingga Rp 5.750 perkilogram.
“Terpautnya harga jagung Rp 50 itu, karena faktor mutu. Kalau mutunya bagus harga bisa sesuai pasar tapi kalau mutunya kurang bagus, bisa dibawahnya sedikit,” katanya.
Meski harga jagung kering pipilan mulai turun namun tapi masih jauh dari harga yang ditentukan pemerintah. Harga acuan pembelian (HAP) dari produsen Rp 4.200 perkilogram. Sementara HAP untuk peternak Rp 5.000 perkilogram.
Kondisi harga jagung ini, seperti harga gabah kering giling tembus Rp 8.500 perkilogram, harga beras tidak mau ketinggalan, melompat tinggi juga. Saat ini, harga beras medium atau jenis 64 tembus Rp 13.500 perkilogram.
Sementara harga beras jenis Bramo atau premium tembus Rp 14.000 perkilogram. “Harga tersebut sudah berlaku sejak akhir Oktober dan hingga kini belum ada perubahan,” kata Malikha, salah satu pemilik toko pracangan di Kabupaten Kediri bagian utara.(gim)



















