Ponorogo, SEJAHTERA.CO – Ponorogo seolah menjadi ladang uang atau “ATM” bagi para pengemis maupun pengamen. Bahkan banyak dari mereka berasal dari luar daerah sengaja datang ke Bumi Reyog hanya untuk mengumpulkan uang receh.
Kepala Dinsos P3A Kabupaten Ponorogo, Supriadi mengatakan jika penyakit masyarakat tersebut tidak akan hilang meskipun Satpol PP dan Dinsos kerap melakukan razia. Jika masyarakat sendiri masih memberi uang kepada para pengemis dan pengamen tersebut.
“Tidak akan jera mereka pasti akan kembali lagi, tapi bisa dicegah melalui partisipasi masyarakat kuncinya jangan memberi uang,” kata Kepala Dinsos Kabupaten Ponorogo, Supriadi kepada wartawan, Rabu (6/12/2023).
Supriadi juga mengatakan hasil razia yang dilakukan oleh Satpol PP selama 10 hari terakhir paling tidak sudah ada 20 orang pengemis dan pengamen yang dibawa ke kantor Dinsos untuk dilakukan pembinaan. Mereka berasal dari luar kota mulai Magetan, Ngawi, Sragen hingga Jombang.
“Mereka yang tertangkap hanya orang itu itu saja, sudah pernah tertangkap 2 hingga 3 kali,” imbuhnya.
Supriadi juga merasa kaget dengan hasil yang didapat oleh para pengemis dan pengamen. Sebab dalam satu hari mereka mendapatkan uang mulai Rp.100.000 hingga Rp.200.000. Jika dikalikan 30 hari maka paling minim mendapatkan Rp 3 juta, jumlah tersebut melebihi UMK Ponorogo yang hanya Rp 2.235.000.


















