“Kami coba akan koordinasikan dengan setiap Pemdes di Tulungagung terkait penanganan TBC ditingkat desa, tentunya hal ini (Support Anggaran) bisa dilakukan demi penanganan TBC,” kata Rudi Prasetyo.
Sebenarnya, ungkap Rudi, beberapa desa di Tulungagung saat ini sudah mulai memberikan perhatian terhadap penanganan TBC bagi para pasien maupun Kader TBC. Namun, desa-desa yang sudah memberikan perhatian terhadap penanganan TBC jumlahnya masih tergolong minim.
Berdasarkan data miliknya, beberapa laporan dan penanganan TBC berasal dari desa di Kecamatan Rejotangan, Sumbergempol dan Boyolangu akan segera ditindak lanjuti.
“Kami tahu jika TBC ini sudah menjadi hal yang sangat penting dan perlu untuk segera ditangani, sehingga kami akan mengupayakan penanganan TBC melalui musrembang di desa-desa,” tutupnya.
Diberitakan sebelumnya, Sepanjang tahun 2023, Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung menemukan ribuan kasus Tubercolusis (TBC). Diketahui, jumlah temuan tersebut bahkan mengalami peningkatan dalam dua tahun terakhir pasca pandemi Covid-19.
Kepala Bidang (Kabid) Penanganan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinkes Tulungagung, Desi Lusiana Wardhani mengatakan, selama dua tahun terakhir, temuan kasus TBC di Tulungagung mengalami peningkatan.
Pada tahun 2020 hanya ada 827 orang positif TBC dari total suspek yang berhasil terjaring yakni sebanyak 2392 orang. Sedangkan pada tahun 2021, angkanya semakin menurun yakni 713 orang positif TBC dengan total suspek yang dijaring sebanyak 2391 orang.
Kemudian pada tahun 2022, temuan kasus TBC di Tulungagung kembali meningkat yakni sebanyak 1398 orang dinyatakan positif TBC dengan total suspek sebanyak 2720 orang. Sedangkan di tahun 2023, ada sebanyak 1427 orang dinyatakan positif TBC dari total suspek 1870 orang.
Reporter: Mochammad Sholeh Sirri
Editor: Dhita Septiadarma



















