Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Masjid As Solihin yang berlokasi di Dusun Gedangan, Desa Punjul, Kecamatan Karangrejo Kabupaten Tulungagung sudah 43 tahun berdiri dan menjadi tempat syiar agama Islam bagi warga setempat. Sayangnya, keberadaan masjid tersebut terancam tergusur pembangunan Tol Kediri – Tulungagung.
Tampak di sekitar masjid tersebut, terlihat sudah terpasang patok berwarna kuning yang dipasang sebagai penanda lokasi pembangunan tol Kediri – Tulungagung. Hal ini membuat masyarakat setempat resah apabila masjid yang sudah berdiri sejak tahun 1980 itu terpaksa harus digusur imbas pembangunan proyek strategis nasional (PSN) tersebut.
Takmir Masjid As Solihin, Muhammad Shahwat Qalby mengatakan, sebenarnya masyarakat setempat bisa ikhlas meski sebagian bangunan masjid terdampak pembangunan jalan tol Kediri – Tulungagung. Warga di sana justru enggan apabila seluruh bangunan masjid terpaksa digusur dan dipindah pada ke lokasi lainnya.
“Sebenarnya masyarakat ikhlas asalkan hanya sebagian bangunan masjid yang terdampak. Kalau harus dipindah, mereka masih sangat menyayangkan,” kata Muhammad Shahwat Qalby, Kamis (28/9/2023).
Apabila menilik sejarah, keberadaan masjid tersebut dan dampaknya bagi masyarakat setempat, tentu keinginan itu cukup masuk akal.
Bagaimana tidak, pada periode tahun 1970-an silam, sebelum berdirinya masjid tersebut, masyarakat di sana tergolong kaum abangan atau masyarakat beragama Islam, tetapi tidak sesuai rukun silam.
Hal tersebut diakui oleh masyarakat di sana, mereka mengaku sama sekali tidak menjalankan syariat-syariat sesuai anjuran agama Islam.
Hal itu tidak terlepas dari minimnya keberadaan masjid di Desa Punjul sehingga syiar-syiar ajaran agama Islam yang benar kurang menyeluruh bagi masyarakat di sana.
“Saat itu masjid masih jarang, saat itu di Desa Punjul saja hanya ada satu masjid yang berdiri untuk menyiarkan agama Islam,” jelasnya.
Dikarenakan minimnya ajaran agama bagi warga Dusun Gedangan, pada era itu sangat jarang masyarakat yang menjalankan salat lima waktu berjamaah di masjid. Bahkan warga menjalankan salat Jumat juga sangat minim karena keberadaan masjid sangat jauh.
Selain itu masyarakat era Orde Baru itu masih jarang yang memiliki kendaraan untuk menempuh perjalanan jauh lima kali dalam sehari termasuk salat Jumat.
“Meski saat itu di desa ini hanya ada satu masjid, tetapi jaraknya jauh, kalau mau salat Jumat harus jalan kaki,” ujarnya.
Barulah memasuki tahun 1980-an, masyarakat Dusun Gedangan berniat untuk mendirikan masjid yang mana kala itu diinisiasi oleh keluarganya (Qalby).



















