Saat itu keluarganya berharap agar masyarakat yang jarang melaksanakan salat Jumat bisa dengan mudah mengakses masjid dan mendirikan salat secara berjamaah.
Barulah setelah pembangunan Masjid As Solihin bisa benar-benar terealisasikan, sedikit demi sedikit masyarakat yang semakin mengenal agama Islam.
Hal itulah yang menjadi awal mula syiar agama Islam bagi masyarakat yang tinggal pada Dusun Gedangan secara khusus dan di Desa Punjul secara umum.
“Awalnya sudah ada bangunan kecil untuk musala dan tidak bisa menampung jumlah minimal jamaah salat Jumat yakni 40 orang. Akhirnya keluarga saya memutuskan untuk membangun masjid,” ungkapnya.
Sejak saat itu, takmir Masjid As Solihin terus melalukan pendekatan kepada masyarakat untuk mensyiarkan agama Islam hingga puncaknya banyak jamaah yang ikut menjalankan ibadah salat lima waktu.
Bahkan hingga saat ini, setidaknya terdapat 20 orang warga di sana yang hadir untuk mengikuti salat jamaah lima waktu pada masjid tersebut.
Tidak hanya ibadah salat saja, setiap minggunya, Masjid As Solihin juga rutin mengadakan kegiatan pengajian maupun istighozah.
Selain itu, setiap bulannya juga rutin melaksanakan kegiatan Khotmil Quran 30 jus yang diikuti oleh warga setempat, yang mana hal itu menandakan jika masjid tersebut tetap hidup dan dibutuhkan oleh warga setempat.
“Masyarakat rutin menjalani kegiatan-kegiatan yang digelar pada masjid ini yang tentunya hal ini sebagai tanda jika masyarakat sangat antusias mempelajari ilmu agama,” ucapnya.
Dengan sejarah panjang eksistensi Masjid As Solihin itu, membuat masyarakat di sana tidak ingin jika Masjid As Solihin harus digusur dan dipindah pada lokasi lain imbas pembangunan tol Kediri – Tulungagung.
Menurut Qolby, bagaimanapun masyarakat di Dusun Gedangan tetap ingin mempertahankan keberadaan masjid tersebut demi mempelajari ilmu agama.
“Pada intinya, tidak apa-apa jika bangunannya sedikit dipindah dua rumah ke barat atau ke utara, kalau sampai harus dipindah dari Dusun Gedangan, masyarakat masih keberatan,” pungkasnya.
Reporter: Mochammad Sholeh Sirri
Editor: Dhita Septiadarma



















