Sri Susuhunan Pakubuwana XI, Miliki Falsafah Hidup “Tiji Tibeh” Yang Perlu Digaungkan Lagi, Apa Maknanya?

Pengangkatan Hangabehi disertai dengan kontrak politik yang menurunkan kewibawaan susuhunan.

 

Dalam kontrak politik itu disebutkan bahwa Hangabehi bisa diturunkan dari kedudukannya jika ternyata tidak dapat memenuhi kewajibannya sebagaimana ditentukan dalam kontrak politik plus pemotongan anggaran belanja keraton secara drastis.

Read More

Pemerintahan Pakubuwana XI terjadi pada masa sulit, yaitu bertepatan dengan meletusnya Perang Dunia Kedua.

Ia juga mengalami pergantian pemerintah penjajahan dari tangan Belanda kepada Jepang sejak tahun 1942. Pihak Jepang menyebut Kasunanan Surakarta dengan nama Solo Koo.

 

Pada masa pendudukan Jepang terjadi inflasi yang mengakibatkan keuangan keraton dan para bangsawan amat menderita.

Jepang juga merampas sebagian besar kekayaan keraton dan aset-aset Kasunanan Surakarta, hingga akhirnya Pakubuwana XI jatuh sakit.

Pakubuwana XI kemudian wafat pada 1 Juni 1945, ia digantikan oleh putranya yang masih berusia sangat muda sebagai Pakubuwana XII.

 

Falsafah hidupnya: Pakubuwana XI sering mengemukakan falsafah hidup yang disebutnya Tiji Tibeh.

Seperti dilansir www.wikipedia, falsafah Tiji Tibeh ini merupakan kepanjangan dari pernyataan mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh.

Pernyataan ini berarti mati satu mati semua, kaya satu kaya semua. Falsafah ini berkaitan dengan nilai kebersamaan yang diterapkannya dalam Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

 

Falsafah Tiji Tibeh ini, sepertinya layak digaungkan lagi saat ini. Dengan falsafah ini diharapkan yang kaya tidak semakin kaya dan yang miskin tidak semakin miskin.

Ringan sama dijinjing dan berat sama dipikul. Begitu kira-kira…

Editor: Gimo Hadiwibowo

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *