Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Tradisi kupatan masal di wilayah Desa Durenan, Kabupaten Trenggalek terus eksis meskipun telah berlangsung lebih dari dua abad.
Tradisi itu tak hanya soal berbagi santapan khas ketupat dalam perayaan idulfitri bersama sanak saudara, tapi melebur jadi ajang mempererat tali silaturahmi antar masyarakat.
Nuansa berbeda terlihat mewarnai wilayah Durenan dan sekitarnya saat memasuki perayaan lebaran ketupat atau yang lazim dikenal tradisi kupatan massal, Rabu (17/4). Setiap tahun, masyarakat setempat menggelar tradisi kupatan massal yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri.
Kawula muda, tua, bahkan hingga anak-anak tumplek bleg melebur jadi satu untuk menyemarakkan tradisi yang menjadikan ikonik di daerah itu. Tak hanya dari daerah Durenan dan sekitarnya, animo masyarakat itu juga berasal dari luar daerah. Indikasi itu salah satunya terlihat dari lalu lalang kendaraan yang tak sepenuhnya berasal dari Bumi Menak Sopal.
Mereka berbondong-bondong menyemarakkan ajang tradisi tahunan yang dipenuhi dengan ragam kegiatan, salah satunya adalah kirap tumpeng ketupat yang saat ini dikemas lebih modern dengan kegiatan-kegiatan penyertanya. Keberagaman itu menjadikan sebuah potret keindahan yang jarang dijumpai di daerah lain.
Dibalik tradisi itu, Ponpes Babul Ulum Durenan Trenggalek menjadi cikal bakal lahirnya tradisi kupatan massal yang hingga kini terus dilestarikan. Dipelopori oleh Mbah Mesir atau Kyai Abdul Masir seorang tokoh Islam Trenggalek, tradisi kupatan itu disebut berlangsung lebih dari 200 tahun.
Awalnya tradisi itu hanya terbatas di lingkungan pondok untuk merayakan lebaran setelah menjalani enam hari puasa syawal usai hari raya Idulfitri. Seiring waktu, tradisi kupatan menyebar dan diikuti oleh warga masyarakat sekitar hingga saat ini. Bahkan saat ini kegiatan itu masuk dalam kalender wisata Trenggalek.
“Tradisi kupatan di Durenan ini memiliki ciri khas dan tidak bisa ditiru tempat lain, yakni silaturahmi kepada guru agama dan warga sekitar yang nantinya disuguhkan hidangan ketupat,” kata Pengasuh Ponpes Babul Ulum Durenan Trenggalek, Kyai Abdul Fattah Mu’in.



















