Selain berebut tumpeng ketupat pasca dikirab dari lingkungan pondok, masyarakat juga dapat menikmati ketupat gratis yang disuguhkan di rumah-rumah warga. Tradisi lebaran ketupat ini tidak hanya sekadar memasak, bertukar dan menyantap hidangan bersama, tetapi juga menjadi ajang berbagi dan silaturahmi antar warga, termasuk para pengunjung dari luar daerah yang melihat prosesi itu.
Potret itu salah satunya dialami oleh Dewi asal Kabupaten Blitar yang sengaja menyempatkan diri ke Durenan untuk menikmati nuansa kebersamaan di momentum itu. Bukan hanya sekali, dia mengaku sudah sebanyak tiga kali mengikuti kegiatan itu. Selain berburu ketupat, dia juga bersilaturahmi kepada para kiai di ponpes tersebut.
“Tradisi ini sangat unik dan menarik, saya sudah tiga kali bersama keluarga mengikuti tradisi ini,” kata dia.
Dalam era modern ini, ketika tren hidangan lebaran semakin beragam, masyarakat Trenggalek tetap memilih mempertahankan tradisi lebaran ketupat sebagai warisan yang terus dilestarikan. Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol religius, tetapi juga kebersamaan dan keharmonisan dalam bingkai keberagaman budaya Indonesia.
“Saat lebaran, kami menghabiskan waktu bersama keluarga dan tetangga, saling berkunjung, serta saling mengucapkan selamat Idul Fitri. Ini momen yang sangat berharga bagi kami. Kegiatan itu semakin lengkap dengan perayaan kupatan ini,” pungkasnya.
Reporter: Angga Prasetya
Editor: Dhita Septiadarma



















