Tidak seperti karya sebelumnya, goresannya tebal, keras, kejam karena menggambarkan protes atau berontak.
Seperti terlihat pada karya hitam putih “Sketsa Pesta Demokrasi’97”. Kemudian karya warna yang judulnya keras “MBULDOSER” dan karya “Target”.
Belakangan, Agus Koecink, sepertinya tidak pernah terdengar kegiatan, utamanya pameran tunggal.
Tapi dia tetap berseliweran (antara ada dan tiada) atau terlibat pada pameran lukisan teman-temannya.
Selain di Surabaya, kadang dia terlibat pameran lukisan di Pasuruan, di Tulungagung, di Malang, di Yogyakarta dan lainnya.
Setelah sekian tahun tidak pameran tunggal, kegelisahan Agus Koecink pun memuncak, tangannya “gatel” ingin mengungkapkannya.
Apalagi melihat kondisi saat ini, yang setiap kegiatan harus menggunakan telepon genggam (HP). Komunikasi tatap muka pun sudah jarang dilakukan.
“Sepertinya, kita ini sudah ada di dunia Alien. Kita sepertinya komunikasi dengan robot setiap harinya,” kata Agus Koecink suatu saat.
Lewat kegelisahannya itu, Agus Koecink tampil lagi dengan tema “Mimesis”. Pameran digelar di Basement Alun-alun Surabaya atau Balai Pemuda.
Catat tanggal pamerannya, 18 – 31 Mei 2024, pukul 10.00 hingga pukul 22.00. Jangan lupa ya, dimeriahkan juga pentas musik oleh Arul Alamandu.
Apa yang dimaksud dengan mimesis?. Menurut KBBI.web.id, Mimesis adalah hubungan menyeluruh antara seni dengan alam dan hubungan yang membentuk karya seni itu sendiri.
Dalam tradisi pemikiran estetika Barat, konsep imitasi dan mimesis sangatlah penting.
Editor: Gimo Hadiwibowo



















