Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Masyarakat nelayan Teluk Prigi menggelar tradisi adat labuh laut larung sembonyo. Ritual adat larung sembonyo yang berlangsung di Pelabuhan Prigi Nusantara, Desa Tasikmadu Kecamatan Watulimo itu berlangsung meriah.
Ratusan hingga ribuan masyarakat Kecamatan Watulimo tumplek blek memadati area jalan desa setempat saat tumpeng agung beserta pernak-perniknya diarak dari Kecamatan Watulimo menuju pelabuhan. Tak sedikit warga yang mengabadikan prosesi ritual adat labuh laut larung sembonyo.
Tumpeng agung beserta pernak-perniknya itu setiba di pelabuhan digelar prosesi adat hingga doa untuk kemudian dilarung ke laut. Larung sembonyo diikuti belasan hingga puluhan nelayan beserta masyarakat sekitar di Teluk Prigi.
Suparlan, tokoh masyarakat setempat menyebut, kegiatan labuh laut larung sembonyo diselenggarakan setahun sekali pada penanggalan jawa tepatnya bulan selo. Kegiatan ritual adat itu merupakan wujud syukur masyarakat setempat atas hasil tangkapan ikan yang melimpah.
“Kegiatan labuh laut larung sembonyo ini lebih kepada wujud syukur para nelayan atas rezeki tangkapan yang melimpah dan doa harapan tidak ada musibah, kecelakaan dan bencana lainnya. Nelayan sehat, nelayan selamat dengan tangkapan melimpah,” kata Suparlan, Selasa (21/5).
Ritual adat labuh laut larung sembonyo itu sudah berlangsung turun temurun. Menurut cerita rakyat, upacara itu merupakan kisah perkawinan antara Raden Tumenggung Yudho Negoro dalam rangka membuka wilayah di Prigi. Dalam ceritanya, ada sarana yang harus dijalani yaitu dengan menikahi Putri Gambar Inten, putri di tengahan.



















