“Sejak saat itu, keturunan Rara Anteng dan Jaka Seger selalu memberikan sesembahan setiap bulan Kasada hari ke-14, yang sekarang dikenal dengan nama Upacara Kasada atau Yadnya Kasada,” jelasnya.
Upacara Yadnya Kasada ini diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur dari masyarakat Tengger yakni dengan memberikan sesembahan kepada Sang Hyang Widhi, sebagai manifestasi dari Batara Brahma.
Juga, sebagai bentuk penghormatan. Mereka memohon agar hasil panen selalu berlimpah, serta dijauhkan dari musibah dan bahaya.
Tradisi bagi masyarakat Tengger menjelang perayaan Yadnya Kasada adalah ritual mendhak tirta. Ritual mendhak tirta ini adalah pengambilan air suci di lima lokasi yaitu, Air Terjun Madakaripura, Goa Widodaren, Pura Rondo Kuning, Mata Air Sumber Pitu dan Mahameru.
Masyarakat Tengger berbondong-bondong menuju titik untuk pengambilan air suci.
“Air suci yang diambil dari lima sumber mata air berbeda tersebut selanjutnya dikirab dan dibawa ke Pura Luhur Poten yang berlokasi di Gunung Bromo untuk dijadikan sebagai salah satu perlengkapan upacara Yadnya Kasada,” tutupnya.
Reporter : Arief Juli Prabowo
Editor : Gimo Hadiwibowo



















