Untuk mengirimkannya, Sukma tak bisa sendirian. Melainkan harus dibantu oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pasuruan.
Sebab lukisan Sukma harus difumigasi agar tidak mudah menjamur selama perjalanan jauh.
“Karena untuk pengiriman karya perlu melakukan fumigasi atau penyemprotan. Dan itu bisanya oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, dan syukurnya semuanya berjalan lancar,” imbuhnya.
Gadis yang juga seorang Terapis Seni itu mengirimkan karyanya ke Negeri Sakura, dan tepatnya pada tanggal 21 Juni lalu.
Karyanya diumumkan dalam daftar tiga besar, sehingga berhak untuk memamerkan masterpiece-nya sekaligus ikut dalam lelang.
“Sampai sekarang sih on going, jadi perlombaan masih berlangsung. Saya gak tau dapat juara apa tidak, karena nanti diambil winner and runner saja. Tapi mudah-mudahan menang,” terangnya.
Ditanya soal lukisannya, Sukma menuturkan bahwa ada tiga orang tokoh Indonesia yang hebat dilukisnya.
Diantaranya RA. Kartini, Mbak Yu Sri, seorang perempuan yang mengikuti suaminya ke Thailand demi memerdekakan negaranya.
Perempuan ketiga adalah Sarinah yang tak lain adalah pengasuh Presiden Indonesia Pertama, Soekarno di masa kecil.
Selain tokoh yang ada di dalam lukisan, hal menarik yang ada di lukisan Sukma adalah media kertas lukis yang berkerut.
Ia mengaku sengaja memberi asam pada kertas tebal tersebut hingga berkerut. Sebab ia meyakini hal yang sama pada setiap manusia akan sebuah kerutan.
“Mau dioperasi plastik atau diapain, kalau sudah usia, pasti yang namanya kerutan akan terjadi,” katanya.
“Ditolak atau diterima pasti akan kita alami. Seperti itulah yang menjadi cara saya dalam menyampaikan pesan di dalam lukisan drawing ini,” tutupnya.
Editor: Gimo Hadiwibowo



















