“Peralatan pemantauan gunung api ini dan juga early warning system termasuk gerakan tanah itu adalah aset negeri kita. Jadi bukan menjadi asetnya Badan Geologi dan Kementerian, tapi aset bangsa Indonesia. Jadi Jadi saya harapkan agar tokoh masyarakat, masyarakat sekitarnya, masyarakat luas juga ikut dalam menjaga aset yang ada tersebar di setiap pos gunung api dan sistem yang ada di gerakan tanah,” sambungnya.
Sementara itu, Kepala PGA Semeru, Liswanto mengatakan, petugas PGA Gunung Api Semeru mengetahui hilangnya alat-alat pemantauan di Stasiun Klepu pada hari Minggu (4/8).
Saat itu dilakukan pengecekan dan didapati gembok pagar sudah terbuka digergaji dan diketahui hilangnya empat unit accu Panasonic berkapasitas 75 ampere didapati sudah hilang.
Baca Juga : Pasca Kecelakaan, Perlintasan JPL 243 Ditutup untuk Roda Empat, Ini Keterangan Humas PT KAI Daop 7 Madiun
“Petugas langsung saya melaporkan kejadian ini ke Polsek Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang dan sudah dibuatkan surat kehilangan oleh polsek tersebut pada 4 Agustus 2024,” ujar Liswanto.
Liswanto memperkirakan kerugian atas kehilangan alat-alat tersebut sekitar Rp 14.000.000.
“Berdasarkan perhitungan sementara menurut perkiraan harga accu kerugian yang diakibatkan oleh pencurian tersebut sebesar Rp 14.000.000,” pungkas Liswanto.
Namun demikian, Liswanto mengungkapkan proses pemantauan masih berjalan dengan baik karena masih banyak peralatan pendukung lainya yang masih dalam keadaan baik dan berjalan lancar.
Baca Juga : Arema FC-Pemkot Bitar Teken MoU Kesepakatan Penggunaan Stadion Supriyadi
“Tidak terlalu berpengaruh besar karena alat kami kan tersebar banyak, itu hanya satu alat repeater, dimana kerjanya untuk memancar ulangkan yang dari Gunung Api Semeru di sebelah barat. Alat kami masih banyak yang di timur, selatan, tenggara,” tuturnya.



















