Terpisah, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin menegaskan, agar masyarakat turut andil mendukung langkah pemerintah meminimalisir potensi dampak bencana.
Baca Juga :Lima Atlet Jombang Berlaga di Turnamen Sepatu Roda Piala Ibu Negara
Dukungan itu adalah dengan mengelola lahan sesuai dengan kesesuaian lokasi, khususnya di daerah lereng pegunungan.
“Yang berada di daerah lereng ya, untuk jangka panjang, di kawasan hutan jangan lagi ada perubahan pemanfaatan. Kalau itu memang masuk kawasan hutan, ya sudah tanamannya kalaupun mau tanaman yang produktif, di bawah tegakan,” katanya.
“Jangan diubah jadi lahan tegalan pangan. Apalagi kalau dikeruk diambil batunya atau segala macam. Lebih-lebih bila itu ilegal, kita tidak kepingin,” kata dia lagi.
Baca Juga :Remaja Pengangguran di Ponorogo Nekat Bobol Rumah hingga Dua Kali, Hasilnya Cuma Buat Ini
Sebab kondisi itu rentan memicu terjadinya longsor ditengah kondisi hujan intensitas tinggi yang kerap mengguyur wilayah Bumi Menak Sopal sebutan lain Kabupaten Trenggalek.
Untuk menanggulangi itu pemerintah menggalakkan reboisasi yang dikemas dalam kegiatan penanaman satu pohon, minimal satu orang satu pohon dalam setahun. Selain untuk menanggulangi bencana, juga mengurangi emisi gas karbon.
“Kemudian diatur jenis tanaman nanti dialokasikan dimana sesuai dengan vegetasi kebutuhan lingkungannya. Bukan hanya masyarakat, namun pemerintahan juga,” urainya.
Baca Juga :Perbaikan Jalur KA Stasiun Pogajih – Kesamben Terdampak Banjir-Longsor Datangkan Alat Berat
“Seperti (misal) bupati wajib tanam 50 pohon dalam satu tahun, kemudian wakil bupati 40 tahun, kemudian bu sekda, OPD sampai masyarakat umum. Setidaknya kita himbau setiap orang menanam satu pohon setiap tahunnya,” pungkasnya.



















