Sejak kenaikan harga cabai, permintaan bumbu pecel Muani meningkat signifikan. Produksinya yang semula hanya membutuhkan 50 kilogram bahan dasar per hari kini melonjak hingga dua kali lipat. “Pesanan datang tidak hanya dari dalam Jombang, tetapi juga dari Kediri, Mojokerto, dan Surabaya,” tambahnya.
Dengan peningkatan permintaan, Muani kini mampu meraih omzet hingga Rp8 juta hingga Rp10 juta per bulan. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi berkah bagi keluarganya, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi warga sekitar yang turut membantu produksi.
Baca Juga :Antisipasi DBD Merebak, Pemkab Trenggalek Galakkan Gerakan Kuras ‘Jeding’ Seminggu Sekali
“Saya bersyukur usaha ini masih bertahan meski harga bahan baku naik. Harapannya, produksi bisa terus meningkat dan memenuhi kebutuhan pelanggan,” tandas Muani.
Sementara, Rifatus Sa’diyah, salah satu pembeli setia bumbu pecel Muani, mengaku lebih memilih bumbu instan karena lebih praktis. “Kalau buat sendiri, biaya cabai dan waktu yang dibutuhkan lebih besar. Jadi, lebih enak beli bumbu instan saja,” tutupnya.



















