Selain mendapatkan ilmu keagamaan, mereka juga menikmati kebersamaan dengan sesama santri lansia lainnya. Interaksi sosial ini memberikan kebahagiaan tersendiri, terutama bagi mereka yang mungkin sudah tidak memiliki pasangan atau hidup sendiri di rumah.
“Harapannya, program seperti ini bisa terus berjalan setiap tahun. Agar para lansia punya tempat untuk belajar agama dengan lebih mendalam dan tetap memiliki lingkungan yang mendukung ibadah mereka,” lanjut Syaifudin.
Para santri lansia ini juga dilatih untuk hidup mandiri selama berada di pondok. Mereka mengurus kebutuhan pribadi mereka sendiri, meskipun beberapa di antaranya tetap mendapat kunjungan dari keluarga.
“Setiap hari jadwalnya sudah ditentukan. Mulai dari bangun tidur, salat, mengaji, sampai istirahat. Rasanya seperti kembali ke masa muda dulu saat mondok,” kata Nur Sholihati, salah satu santri lansia yang mengikuti pondok Ramadan ini.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa semangat belajar agama tidak mengenal usia. Para lansia yang mengikuti pondok ini merasa lebih damai dan bahagia karena bisa menjalani Ramadan dengan lebih bermakna.
Meskipun harus berpisah sementara waktu dengan keluarga, banyak peserta yang justru mendapat dukungan penuh dari anak-anak mereka. Para keluarga merasa senang karena orang tua mereka bisa menjalani Ramadan dengan lebih terarah dan penuh keberkahan.
Baca Juga :SMPN 6 Blitar-TK Negeri Kepanjenlor Selamat dari Refocusing, Maret Mulai Persiapan Lelang
Pondok Lansia ini menjadi bukti bahwa belajar dan beribadah tidak mengenal batasan usia. Selama ada niat dan semangat, mendekatkan diri kepada Allah bisa dilakukan kapan saja, termasuk di usia senja.



















