Saat ini, pedagang masih bertahan dengan berjualan di lapak sementara. “Padahal, Pasar Kesamben ini juga menjadi barometer ekonomi di wilayah timur. Mudah-mudahan ada solusi,” harapnya.
Dia menjelaskan lagi, rencananya untuk Pasar Kesamben bakal dibangun lagi dengan dua lantai. Pasalnya, jumlah pedagang dari tahun ke tahun meningkat.
Dengan adanya dua lantai, selain memudahkan pembeli juga memfasilitasi tingginya minat pedagang untuk menempati.
“Kami berharap revitalisasi Pasar Kesamben bisa segera terealisasikan oleh pemerintah pusat. Karena memang sangat dibutuhkan. Kalau mengandalkan anggaran dari daerah belum mencukupi,” jelasnya.
Pihaknya, lanjut Darmadi, mengelola 13 pasar tradisional yang tersebar di berbagai kecamatan. Di antaranya Pasar Kanigoro, Pasar Wlingi, Pasar Kesamben, Pasar Talun.
Baca Juga :Pemkab Malang dapat Hibah dan Bangunan Tanah di KPK Senilai Rp 3,91 Miliar
Selain itu, Pasar Garum, Pasar Gandusari, Pasar Doko, Pasar Nglegok, Pasar Kademangan, Pasar Lodoyo, Pasar Srengat, Pasar Ngembul, dan Pasar Wonodadi.
Menurut Darmadi, sebagian besar pasar tersebut sudah berusia tua dan membutuhkan perbaikan agar tetap bisa berfungsi optimal sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Seperti Pasar Wonodadi dan Pasar Srengat.
Salah satu revitalisasi pasar yang bersumber dari APBD dan pemerintah pusat adalah Pasar Nglegok. Pasar ini menghabiskan dana Rp3 miliar dan kini sudah digunakan pedagang untuk jualan.
Baca Juga :Polres Batu Ringkus 19 Tersangka, Musnahkan Ratusan Ribu Barang Bukti
Dengan rincian Rp2,7 miliar dari APBD sementara sisanya dari APBD Kabupaten Blitar. Pasar ini dilengkapi dengan fasilitas pendukung. Mulai tempat parkir, toilet hingga penutup yang tinggi dan tidak sumpek.



















