Jolotundo Berawal Dari Lima Tenda Glamping hingga Jadi Magnet Wisata Nganjuk

Jolotundo Berawal Dari Lima Tenda Glamping hingga Jadi Magnet Wisata Nganjuk
Area cafe dengan tenda-tenda dek yang dipisahkan aliran sungai deras (inna/sejahtera.co)

Bahkan, untuk bisa merasakan sensasi menginap di tenda-tenda tersebut, pengunjung harus rela mengantre untuk melakukan reservasi.

Pengelolaan Jolotundo Glamping dan Edu Park dilakukan secara swasta dengan sistem kerjasama bersama Perhutani.

Ridhan Nandari sebagai pengelola tidak hanya fokus pada aspek bisnis, tetapi juga memiliki komitmen kuat terhadap pelestarian lingkungan.

Read More

“Kami memiliki kontrak dengan Perhutani untuk ikut menjaga dan melestarikan hutan pinus di area ini,” tegasnya.

Baca Juga :Puluhan Buruh Tuntut Upah Layak  dan Tolak PHK Sepihak

Masterplan pembangunan wisata Edupark ini juga sepenuhnya sesuai dengan izin yang diberikan oleh Perhutani. Lahan yang di kembangkan saat ini adalah tanah lapang, sehingga tidak merusak ekosistem hutan yang ada.

Menurut informasi saat ini, Jolotundo telah mengelola sekitar 10 hektare lahan pinus milik Perhutani, dan tidak menutup kemungkinan luas area wisata ini akan terus bertambah seiring dengan pengembangan fasilitas dan atraksi baru.

Kehadirannya tidak hanya menghidupkan kembali potensi wisata di Desa Bajulan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar.

Joni (40), seorang pemilik warung sederhana yang berlokasi sekitar 200 meter dari gerbang wisata, adalah salah satu saksi nyata dampak positif tersebut.

Warga asli Bajulan ini mengaku sangat senang dengan kehadiran Jolotundo. “Sejak ada wisata itu, warung saya selalu ramai. Walaupun hanya menjual kopi, mie instan, dan jajanan, warung saya tidak pernah sepi,” ujar Joni.

Baca Juga :Semarak Hari Buruh di Lamongan, Senam Bersama, Pemeriksaan Kesehatan hingga Komitmen Kesejahteraan Pekerja

Wisatawan dan warga lokal kerap mampir ke warungnya sambil menunggu antrean kendaraan masuk ke area wisata.

Sebelum Jolotundo hadir, penghasilan kotor Joni hanya berkisar Rp 50 ribu per hari. Namun kini, di hari biasa, Joni mampu mengantongi Rp 200 hingga Rp 300 ribu, dan bahkan di akhir pekan, pendapatannya bisa mencapai Rp 500 ribu.

“Alhamdulillah, saya senang sekali ada wisata baru ini. Baru setahun dua tahun tapi ramai sekali,” pungkas Joni.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *