Perubahan musim yang ekstrem memengaruhi pertumbuhan tanaman dan meningkatkan risiko gagal panen.
Berdasarkan data Dinas Pertanian, pada tahun 2022 luas lahan apel di Kota Batu tercatat mencapai 1.200 hektare. Namun hingga 2025, angka itu menyusut menjadi 1.092 hektare.
Penurunan ini disebabkan oleh banyaknya petani yang beralih ke komoditas lain seperti sayuran dan hortikultura yang dianggap lebih menguntungkan dan stabil.
Baca Juga :Diduga Gelapkan Mobil, Pria Asal Sukodadi Lamongan Dibekuk Polisi
“Kalau dibiarkan seperti ini terus, bukan tidak mungkin lahan apel di Batu akan terus berkurang. Biaya tinggi, hasil rendah, cuaca tak menentu. Itu beban yang sangat berat bagi petani,” tambah Dwi.
Petani berharap adanya dukungan nyata dari pemerintah, baik berupa bantuan bibit unggul, subsidi pupuk dan pestisida, maupun pelatihan regenerasi tanaman agar tanaman apel bisa tetap menjadi identitas dan kebanggaan Kota Batu.
Gunung dan hawa sejuk Batu memang identik dengan apel. Namun, jika tekanan ekonomi terus membelit para petani, bukan tidak mungkin kebun-kebun apel akan perlahan menghilang dan berganti menjadi ladang sayur.



















