“Sound horeg ini mobile, bisa berputar di permukiman. Maka masyarakat yang tidak ikut serta pun tetap terpapar. Ini berbeda dengan konser yang digelar di tempat tertutup atau terbuka tapi terbatas,” ujarnya.
Dampak Perlahan tapi Nyata
Menurut Aris, paparan suara dengan intensitas tinggi tidak langsung menimbulkan gejala, namun dampaknya akumulatif, seperti polusi udara atau asap rokok.
“Efeknya bukan langsung terasa seperti pingsan. Tapi perlahan bisa menurunkan kualitas tidur, memicu stres, bahkan kerusakan permanen pada pendengaran,” paparnya.
Mereka yang paling rentan terdampak adalah kelompok sensitif seperti bayi, lansia, serta orang yang sedang sakit. Aris menyebut kondisi ini sebagai bentuk polusi suara yang seharusnya disadari bersama.
Baca Juga :Harga Ikan Laut di Pasar Setono Betek Kediri Naik, Cuaca Buruk Sebabkan Stok Menipis
“Kami tidak bermaksud melarang masyarakat menikmati hiburan, tapi mari saling menghargai. Jangan sampai kegembiraan segelintir orang merugikan kesehatan warga lain,” pungkasnya.



















