Jombang, SEJAHTERA.CO – Puasa di bulan Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan dahaga. Umat Islam juga diingatkan untuk menjaga hati dan lisan agar pahala ibadah tidak hilang sia-sia.
Hal tersebut disampaikan KH Fahmi Amrullah Hadziq dalam tausiahnya. Pengasuh Pondok Pesantren Putri Tebuireng sekaligus Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama itu mengingatkan bahwa hati dan lisan menjadi penentu kualitas ibadah puasa seseorang.
Dalam ceramahnya, Gus Fahmi menyampaikan kisah hikmah tentang Lukman Al Hakim. Diceritakan, suatu hari majikan Lukman memerintahkannya menyembelih kambing dan mengambil bagian tubuh yang paling baik. Lukman kemudian membawa hati dan lidah kambing.
Keesokan harinya, sang majikan kembali memerintahkan Lukman mengambil bagian tubuh yang paling buruk. Namun Lukman kembali membawa hati dan lidah.
Baca Juga :Libur Lebaran 2026, DLHKP Terjunkan Ratusan Petugas Untuk Jaga Kebersihan Kota Kediri
Ketika ditanya alasannya, Lukman menjelaskan bahwa tidak ada bagian tubuh yang lebih baik daripada hati dan lidah jika keduanya baik, dan tidak ada yang lebih buruk jika keduanya rusak.
Dari kisah tersebut, Gus Fahmi menegaskan bahwa kualitas hati dan lisan sangat menentukan perilaku seseorang, termasuk saat menjalankan ibadah puasa.
Ia kemudian mengutip sabda Nabi Muhammad SAW tentang pentingnya menjaga hati:
“أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ”
Artinya: “Ingatlah, di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ingatlah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menurutnya, manusia dinilai baik ketika hatinya baik, dan sebaliknya akan rusak ketika hatinya rusak.
Baca Juga :Parsel Lebaran, Polres Lamongan Ringkus Dua Pelaku Curanmor
Selain hati, ia juga menekankan pentingnya menjaga ucapan. Gus Fahmi mengutip pepatah Arab:
“سَلَامَةُ الْإِنْسَانِ فِي حِفْظِ اللِّسَانِ”
Artinya: “Keselamatan seseorang itu tergantung pada menjaga lisannya.”
Ia juga mengingatkan sabda
Nabi Muhammad SAW:
“مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ”
Artinya: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata yang baik atau lebih baik diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)



















