“Ke depan kami juga akan membuat edukasi untuk anak-anak agar dapat membuat topeng, dan juga bisa menari,” ucap Isma Hakim.
Sementara itu, akademisi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Setyo Yanuartuti, melihat Wayang Topeng Jatiduwur sebagai aset budaya yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan lebih luas.
“Awalnya dari sebuah visual topeng dengan berbagai bentuk karakter. Berawal dari sana kemudian menjadi sebuah pertunjukan yang dilengkapi dengan perangkat-perangkat,” kata Setyo.
Ia menilai, kesenian ini tidak hanya terbatas pada fungsi tradisi, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi pertunjukan yang lebih adaptif.
“Nah kami pada tahun ini punya program untuk membuat merchandise. Artinya berawal dari karakter yang dimiliki pertunjukan wayang topeng ini, baik topengnya, busananya, maupun musiknya, bagaimana ini bisa dijadikan sumber awal untuk merchandise dikembangkan dalam seni kriyanya,” beber Setyo.
Baca Juga :Bupati Nonaktif Tulungagung Tetap Terima Gaji Pokok, Tunjangan Dipangkas
“Untuk membangunkan ekonomi kreatif. Kami akan mengembangkan itu bersama-sama dengan Sanggar Tari Tri Purwo Budoyo,” pungkas Setyo.
Pengembangan ini diharapkan dapat menjaga keberlangsungan Wayang Topeng Jatiduwur sekaligus membuka ruang baru bagi pelaku seni di tingkat lokal. (st2/ag)



















