Agus menambahkan, peristiwa awal tiga anak SD tersambar dan terkena ledakan petasan yang ia buat sendiri, berawal dari anak-anak berusia SD berselayar medsos di ponsel.
Dari ponsel inilah mereka menemukan cara membuat bahan serbuk petasan. Mereka membelinya kemudian bereksperimen dan berhasil meracik bahan serbuk petasan hingga membuat petasan.
Baca Juga :Kecelakaan di Kepatihan Tulungagung Diduga Libatkan Kurir Miras, Polisi Selidiki
Setelah beberapa kali eksperimen ternyata semburan api petasan dan menyambar tubuh mereka hingga warga melarikan ke rumah sakit.
“Sejauh ini mereka masih ada yang dirawat di rumah sakit. Ke depannya kita tidak ingin hal ini terjadi lagi di wilayah Kecamatan Wates,” ujarnya.
“Kita akan maraton terus mengedukasi dan sosialisasi pencegahan tidak bermain petasan untuk anak anak,” lanjutnya.
“Kita berharap juga ke guru dan orang tua agar anak yang miliki ponsel bisa digunakan dengan bijak untuk belajar,” ujarnya lagi.



















