Ponorogo, SEJAHTERA.CO – Musim hujan yang tak kunjung datang, membuat kekeringan di Ponorogo semakin meluas. Bahkan saat ini status kekeringan di Ponorogo sudah memasuki status awas atau lebih tinggi satu tingkat dari status siaga.
Peningkatan status menjadi awas tersebut sesuai dengan hasil assessment yang dilakukan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Malang beberapa waktu lalu.
Kepala BPBD Kabupaten Ponorogo, Masun mengungkapkan meski kondisi saat ini tidak sama dengan tahun 2019 yang juga mengalami kekeringan cukup parah, namun harus tetap diwaspadai karena juga akan tetap berdampak kondisi ketersediaan air bersih.
“Memang tidak lebih parah dibanding 2019, tapi memang kekurangan air bersih semakin meluas,” ungkap Masun, kepada wartawan, Jumat (13/10/2023).
Masun menjelaskan bahwa kekeringan di Ponorogo semakin meluas, terakhir sudah ada 11 dukuh dari 6 kecamatan dari yang harus dibantu droping air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Dimana total kepala keluarga (KK) yang terdampak mencapai 813 dari 3144 jiwa.
“Kecamatan yang masuk kekeringan itu Slahung, Pulung, Badegan, Jambon, Sawoo dan Kecamatan Bungkal, sepekan kita droping satu hingga dua kali tergantung kebutuhan warga yang terdampak,” jelasnya.



















