Berwirausaha Tak Kenal Usia, Pengusaha Kue Ulang Tahun Sukses Usai Banting Setir

Berwirausaha Tak Kenal Usia, Pengusaha Kue Ulang Tahun Sukses Usai Banting Setir

Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Lebih dari enam tahun melakoni bisnis kue ulang tahun mengantarkan Utrin Eli Yana Setyorini menjadi pengusaha sukses. Dibalik pundi-pundi rupiah yang didapat, perjalanan bisnis Utrin penuh liku hingga dia memutuskan ‘banting setir’ dikala usianya tak lagi muda.

Lebih dari enam tahun lamanya ibu dua anak itu menjalani bisnis kue ulang tahun. Omzet yang didapat pun cukup menggiurkan, berkisar Rp 4 juta per bulan. Sebuah nilai cukup besar untuk menunjang pendapatan dalam mencukupi kebutuhan ekonomi rumah tangga.

“Omzet (rata-rata) per bulan sekitar Rp 4 juta,” kata Utrin.

Read More

Karya kue ulang tahun Utrin ramai diburu konsumen. Sebelum pandemi, rata-rata tiap dua hari sekali dia selalu mendapat pesanan. Bahkan bisa sampai sebulan penuh banjir orderan dengan estimasi harga Rp 200 sampai Rp 350 ribu.

“Tergantung ukuran dan pernak-perniknya,” imbuhnya.

Selain usaha kue ulang tahun, bisnis Utrin menunjukkan hasil positif. Dia mulai mengembangkan tumpeng, puding ultah hingga aneka kue basah. Misalnya seperti lapis Surabaya, brownies, roll cake dan sebagai. Bisa dibilang usaha Utrin mendapat ‘tempat’ dihati masyarakat.

Namun dibalik kesuksesan itu, usaha Utrin penuh liku. Perjalanan bisnisnya tak semulus yang dibayangkan, kala Utrin merintis usaha sebelum selancar ini. Sebelumnya Utrin melakoni bisnis keripik pare. Camilan yang memiliki karakteristik rasa pahit itu.

Usaha perdana itu dirintis di usianya yang tak lagi muda alias sudah berumah tangga yang secara otomatis kesibukan dan waktu luang pun berbeda ketimbang saat remaja. Dia berpedoman berwirausaha tak mengenal batasan usia, terpenting adalah semangat dan usaha.

“Saya pernah menekuni usaha keripik pare, kemudian gambas atau oyong,” kata warga Kelurahan Surondakan Trenggalek itu.

Sama seperti pengusaha pemula pada umumnya. Dia meraba-raba peluang bisnis yang cocok hingga menguntungkan ditengah kesibukannya membagi waktu bersama keluarga kecilnya. Fase kegagalan-pun tak luput dalam melengkapi perjalanan bisnisnya.

Rupanya bidikan peluang bisnis yang diprediksikan Utrin tak sepenuhnya menguntungkan. Dia menilai antara tenaga operasional dan penjualan tidak berimbang. Sebab terjadi penyusutan banyak dari pengolahan sayur basah menjadi produksi kering.

“Pengolahan sayur basah menjadi sayur kering menyusut banyak. Misalnya dari 10 kilogram pare menjadi sekitar 2 kilogram,” ujarnya.

Tak ayal usaha itu cenderung mengarah pada kerugian. Kondisi itu ditambah dengan keripik pare termasuk jenis usaha musiman sehingga peminatnya pun di waktu-waktu tertentu. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Utrin memutuskan ‘banting setir’.

“Susah untuk mendapatkan keuntungan dan sering kali saya merugi,” kata dia.

Secuil pengalaman dalam berwirausaha yang dimiliki Utrin tak sebegitu cepat melenggangkan jalan bisnisnya, pasca dia memutuskan untuk berwirausaha kue ulang tahun setelah melihat peluang pasar. Dia perlu beradaptasi, mengingat usaha itu terbilang baru bagi Utrin.

Meskipun minim pengalaman, bahkan bisa dibilang tak punya pengalaman, namun Utrin tak menyerah. Tak kalah akal, meskipun sudah tak muda lagi dia berusaha untuk tetap melek teknologi informasi dengan mencari berbagai referensi resep pembuatan kue.

Berbekal uang Rp 500 ribu, dia mencoba berbagai inovasi hingga menghasilkan sebuah karya perdananya. Kenyataan pahit pun harus dia terima, sebab bukan sekali dua kali dia gagal meracik kue sehingga ekspetasi dengan realita terkadang tak selaras.

“Saya tak menyerah begitu saja dan terus belajar sembari mencari pasar. Mencoba terus dan sampai saat ini pun masih terus belajar memberikan yang terbaik,” kata dia.

Hingga akhirnya setelah melakukan berbagai eksperimen, Utrin mencoba peruntungan dengan memposting karya tangan terampilnya. Tak disangka, kue ulang tahun menjadi pembuka jalan rezeki baginya. Dia pun semakin semangat membuat kue-kue ulang tahun.

“Alhamdulillah dengan memposting foto kue di sosial media (sosmed), ternyata langsung diminati. Mulai saat itu saya tertarik usaha kue,” jelasnya.

Owner Utrin@rt itu mengaku senang membuat kue, selain menghasilkan pundi-pundi rupiah juga selaras dengan hobi di bidang seni. Pasalnya Utrin mengaku senang menggambar sehingga bisa mengekspresikan imajinasinya melalui produk kue ulang tahun.

“Karena masih selaras dengan hobi di bidang seni. Saya hobi menggambar, jadi selain menghasilkan (uang) juga dapat menyalurkan hobi saya,” kata Utrin.

Meskipun usaha Utrin terbilang berkembangnya pesat, bukan berarti tak ada risiko yang harus ditanggung. Dia harus pandai-pandai mengatur ritme mengingat sisi ketahanan kue hanya dalam hitungan hari. Belum lagi soal hantaman pandemi Covid-19.

“Alhamdulillah pandemi tetap ada saja pemesanan kue ulang tahun, karena tiap bulan selalu ada yang pesan untuk ulang tahun,” kata dia.

Utrin mengatakan, berwirausaha baginya adalah hak semua orang tanpa memandang gender dan status. Sebab wanita zaman saat ini tak lagi terkungkung dengan gender sehingga bisa menunjukkan keterampilan dan kemandirian dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga.

“Saya ingin membantu perekonomian keluarga, agar tidak semua tanggung jawab dibebankan kepala rumah tangga,” pungkasnya.

Reporter : Angga Prasetya

Editor: Dhita Septiadarma

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *