Sejarah Pilu Dibalik Pesona Pantai Mutiara Trenggalek, Rusak Akibat Bombing Pemburuan Lobster dan Ikan Hias

Sejarah Pilu Dibalik Pesona Pantai Mutiara Trenggalek, Rusak Akibat Bombing Pemburuan Lobster dan Ikan Hias

Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Dibalik keindahan Pantai Mutiara Trenggalek menyimpan ragam cerita pilu. Lokasi itu dulunya jadi sasaran para pemburu lobster hingga ikan hias untuk dijual di pasar bebas. Kerusakan ekosistem pun tak terhindar, hingga akhirnya muncul secercah harapan seiring pelestarian alam yang terus dilakukan.

Pantai Mutiara yang terletak di Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo kini menjelma menjadi salah satu destinasi wisata favorit bagi wisatawan. Tak hanya pengagum keindahan, daerah itu juga menjadi ‘surganya’ para pencinta olahraga air, seperti misalnya stand up paddle board. Sebab, ombak di Pantai Mutiara relatif tenang karena berada di teluk.

Tak hanya soal keindahan alamnya. Sarana prasarana yang ada di pantai itu juga terus berbenah. Mulai dari hunian, kulinernya hingga akses parkir kendaraan baik kendaraan besar maupun kecil yang sangat rekomendasi.

Read More

Semua fasilitas yang ada di sana menjadi paket komplit bagi wisatawan yang ingin menikmati solek keindahan hamparan pasir putihnya.

Namun, siapa sangka destinasi yang dikenal dengan keindahan dan keeksotisan alamnya itu menyimpan sejarah pilu dibalik pesonanya.

Terletak tak jauh dari Pantai Karanggongso, pantai diujung selatan Trenggalek itu dahulu menjadi sasaran praktik penangkapan ikan yang merusak.

Yaitu menggunakan pemboman bawah laut atau yang lazim dikenal bombing oleh para pemburu lobster dan ikan hias untuk kemudian dijual di pasar bebas.

Minat pasar bebas yang cukup tinggi membuat praktik penangkapan dengan cara merusak itu semakin masif.

Tak hanya menggunakan bombing, namun juga putas yang jelas-jelas praktik ilegal itu tak hanya merusak ekosistem laut, namun juga mengancam kehidupan masyarakat pesisir yang bergantung pada kekayaan alam laut untuk mata pencaharian.

“Dulunya terumbu karang ini korban bombing, potas untuk perburuan lobster hingga ikan hias yang diperjualbelikan,” kata Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin saat menggelar kegiatan konservasi bersama pegiat alam di Pantai Mutiara.

Dalam praktiknya kala itu, metode bombing yang digunakan tidak pandang bulu.

Menghancurkan terumbu karang dan membunuh berbagai spesies laut di sekitarnya. Efek destruktif dari aktivitas itu membuat ekosistem di Pantai Mutiara mengkhawatirkan. Masyarakat nelayan-pun merasakan imbasnya, kehilangan mata pencaharian seiring sumber daya laut yang berkurang drastis.

“Jadi kenapa pasir di sini terlihat putih ? Karena adanya serpihan karang yang sudah mati dan terbawa ke daratan. Jadi bleaching, perubahan suhu laut, peningkatan suhu laut akibat perubahan iklim,” imbuhnya.

Kondisi saat itu kian mengkhawatirkan. Hingga akhirnya, secercah harapan itu muncul ketika pemerintah dan berbagai organisasi lingkungan bahu membahu memulihkan kondisi ekosistemnya. Masyarakat-pun juga mulai sadar, praktik perburuan ilegal itu hanya jadi bom waktu yang tanpa permisi bisa menghancurkan fondasi utama perekonomian mereka.

Berbagai upaya rehabilitasi dilakukan. Diantaranya adalah transplantasi terumbu karang menggunakan metode bioreeftek. Tempurung batok kelapa disulap sedemikian rupa hingga akhirnya menjadi rumah-rumah ikan yang belakangan dinamakan ‘Karang Tresno’.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *