Tulungagung, SEJAHTERA.CO -Awal bulan Ramadan, harga cabai dari kalangan petani di Kabupaten Tulungagung rupanya terpantau meningkat drastis. Kenaikan harga cabai dari kalangan petani ini disinyalir terjadi lantaran faktor cuaca, sehingga mempengaruhi hasil produksi cabai di Kabupaten Tulungagung.
Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Tulungagung, Suyanto mengatakan, pada Sabtu (1/3/2025) kemarin, sebenarnya harga cabai dari kalangan petani di Tulungagung masih seharga Rp 60 ribu perkilogram. Namun, saat ini harganya terpantau naik menjadi Rp 85 ribu untuk satu kilogram cabai rawit.
Hal ini tentunya turut mempengaruhi harga cabai rawit yang dijual di pasaran, dimana saat ini harganya bahkan sudah menyentuh angka Rp 100 ribu perkilogram. Meningkatnya harga cabai ditingkat petani ini tidak lebih dikarenakan faktor supply and demand atau ketersediaan dan kebutuhan masyarakat.
Baca Juga :Sidak SPBU, Kasatreskrim Polres Malang: Pastikan Stok Aman Selama Ramadhan
“Kalau supply nya terbatas, sedangkan demand nya meningkat, tentu akan mempengaruhi harga bahkan di tingkat petani sekalipun. Kalau fenomena saat ini itu karena sejak awal ramadan ada tradisi megengan,” kata Suyanto, Selasa (4/3/2025).
Selain karena tradisi megengan, ungkap Suyanto, terdapat faktor lain yang mempengaruhi harga cabai rawit, sehingga petani memilih menaikkan harganya. Seperti faktor cuaca yang turut menjadi salah satu pemicu para petani memilih untuk menaikkan harga cabai, sehingga harga cabai di pasaran turut melonjak.
Pasalnya, beberapa waktu terakhir Kabupaten Tulungagung kerap dilanda hujan deras dengan intensitas yang cukup tinggi, sehingga hal itu mempengaruhi tanaman cabai rawit. Diketahui, cabai rawit sendiri memang tidak terlalu memerlukan air yang banyak, sehingga saat hujan deras mempengaruhi hasil panen.



















