Kediri, SEJAHTERA.CO – Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di wilayah Kediri Raya hingga Februari 2026 menunjukkan kondisi yang tetap terjaga meski menghadapi tekanan ekonomi global.
Pendapatan dan belanja negara tercatat mengalami kontraksi secara tahunan (YoY), namun secara umum masih mampu menopang aktivitas ekonomi di daerah.
Kepala KPPN Kediri, Moch. Izma Nur Choironi, menyampaikan bahwa kondisi tersebut masih mencerminkan ketahanan fiskal yang cukup baik di wilayah Kediri Raya.
“Secara pendapatan dan belanja ada kontraksi secara tahunan,” ujarnya Selasa (31/3/2026).
Dari sisi pendapatan, hingga Februari 2026 realisasi penerimaan negara di Kediri Raya tercatat sebesar Rp3.245,23 miliar.
Penerimaan tersebut didominasi sektor perpajakan sebesar Rp3.163,77 miliar, sementara Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) menyumbang Rp81,46 miliar.
Baca Juga :Unik! Tugu Batas Desa Berdiri di Teras Rumah Warga Nganjuk, ini Fakta Sebenarnya
Namun secara YoY, penerimaan perpajakan mengalami kontraksi sebesar -10,53 persen. Di sisi lain, PNBP justru mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 26,28 persen, yang menjadi penopang di tengah tekanan pada sektor pajak.
Sementara itu, dari sisi belanja negara, realisasi hingga Februari 2026 mencapai Rp1.499,25 miliar atau sekitar 21 persen dari total pagu anggaran.
Rinciannya, belanja pegawai sebesar Rp125,90 miliar, belanja barang Rp68,4 miliar, dan belanja modal Rp5,57 miliar.
Jika dilihat dari sebaran wilayah, Kabupaten Kediri menjadi daerah dengan realisasi belanja terbesar mencapai Rp231,923 miliar.
Disusul Kabupaten Nganjuk sebesar Rp195,105 miliar, Kabupaten Trenggalek Rp170,526 miliar, serta Kota Kediri sebesar Rp147,857 miliar.



















