Agus Koecink, Antara Ada dan Tiada, Pameran Tunggal di Alun-alun Surabaya dengan “Mimesis”, Apresiasi Rek…!

Agus Koecink, Antara Ada dan Tiada, Pameran Tunggal di Alun-alun Surabaya dengan “Mimesis”, Apresiasi Rek…!

Surabaya, SEJAHTERA.CO – Perupa Surabaya, Agus Koecink, di jagad dunia kepelukisan, ibarat antara ada dan tiada.

Agus Koecink, namanya sudah tidak asing lagi di kalangan seniman lukis, baik di Surabaya maupun Jawa Timur pada umumnya.

Namun beberapa tahun belakangan, Agus Koecink, seperti menghilang dari dunia kepelukisan, utamanya dalam pameran tunggal.

Read More

Padahal (kalau tidak salah), antara tahun 1990 hingga tahun 2.000-an, namanya sangat dikenal dan beberapa pameran tunggal dan juga pameran bersama.

Karya yang ditampilkan Agoes Koecink, pria kelahiran Tulungagung ini, ada lukisan hingga instalasi boneka sawah hingga mainan anak, kitiran.

Lukisan atau instalasi yang ditampilkan, diserapnya dari kondisi lingkungan, perkotaan Surabaya tentunya, utamanya soal kerakyatan.

Karya Agus Koecink cenderung bernada kritis, protes dan sejenisnya demi menyuarakan kegelisahan rakyat kecil.

Bahkan nama Agus Koecing juga sempat menjadi perbincangan karena pameran tunggalnya di Dewan Kesenian Surabaya (DKS) atau Gedung Yayasan 66, terjual habis.

Tidak banyak yang percaya saat itu, baik di kalangan seniman maupun pecinta seni lukis. Agus Koecink yang masih tergolong pelukis “kemarin sore”.

Tapi ya memang itulah kejadiannya saat itu. Apalagi pada tahun 2.000-an lagi booming pasar lukisan.

Utamanya yang bergaya kontemporer. Karena saat itu, Agus Koecink juga memasuki wilayah lukisan yang lagi banyak diburu kolektor dan “kolekdol”.

Belakangan, dengan bertambahnya usia dan kontemplasinya, karya Agus Koecink, terlihat soft dan garisnya terkesan ringan.

Tapi kekhasan goresannya masih terasa Agus Koecink banget. Sosok yang ditampilkan cenderung “cantik” dan indah.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *