Buku-buku yang berisi ajaran komunis dilarang dan dihancurkan, sedangkan buku-buku yang mendukung pemerintah dan ideologi Pancasila diberikan secara gratis kepada siswa di sekolah.
Hal ini menyebabkan generasi muda saat itu hanya mendapatkan satu sisi cerita dan tidak dapat mengembangkan pemikiran kritis.
Dampak dari peristiwa ini juga masih terasa hingga saat ini, terutama pada generasi muda saat ini.
Meskipun sudah lebih dari 50 tahun berlalu, stigma negatif terhadap PKI dan gerakan kiri masih ada di masyarakat.
Hal ini menyebabkan generasi muda saat ini tidak banyak yang mengetahui tentang sejarah secara objektif dan hanya mendapatkan informasi dari sudut pandang pemerintah.
Hal ini juga menyebabkan kurangnya pemahaman tentang ideologi komunis dan Pancasila, yang seharusnya menjadi bagian penting dari pendidikan sejarah di Indonesia.
Selain itu, peristiwa ini juga berdampak pada kebebasan berekspresi dan berorganisasi di Indonesia.
Pemerintah Orde Baru yang berkuasa pada saat itu sangat membatasi kebebasan berekspresi dan berorganisasi, terutama bagi gerakan-gerakan kiri.
Hal ini menyebabkan generasi muda saat itu tidak dapat mengembangkan pemikiran kritis dan berpartisipasi dalam gerakan sosial yang dapat membawa perubahan positif bagi masyarakat.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa peristiwa G30S PKI memiliki dampak yang sangat besar pada generasi muda di Indonesia.
Selain menimbulkan trauma dan ketakutan pada generasi muda saat itu, peristiwa ini juga berdampak pada pendidikan, budaya, dan kebebasan berekspresi dan berorganisasi di Indonesia.
Oleh karena itu, penting bagi generasi muda saat ini untuk mempelajari sejarah peristiwa G30S PKI secara objektif dan mengembangkan pemikiran kritis untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa di masa depan.



















