“Terbukti kegiatan ini juga banyak menyedot animo masyarakat,” ujarnya.
Dalam kegiatan itu, terdapat aksi dua orang saling cambuk menggunakan cambuk yang terbuat dari lidi aren dengan iringan-iringan musik disertai tarian.
Ada makna dan filosofis dalam setiap aksi tradisi tiban yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Meskipun begitu, terdapat aturan-aturan tertentu untuk menghindari fatalitas.
“Peserta tiban hanya boleh mencambuk pada bagian perut hingga pundak untuk menghindari cedera yang berakibat fatal. Dalam memainkannya, peserta diberikan kesempatan mencambuk sebanyak tiga kali secara bergantian,” jelasnya.
Meskipun mengalami luka hingga mengeluarkan darah, para peserta tetap tegar dan tidak boleh mengeluh kesakitan. Apalagi sampai menyimpan dendam.
Sebab tidak ada menang kalah dalam kesenian Tiban yang berarti Tibo Udan atau turun hujan. Kegiatan itu rencananya akan dilakukan secara kontinyu hingga Trenggalek turun hujan.
“Tidak ada obat khusus yang digunakan untuk mengobati luka cambuk, biasanya hanya diberi minyak kapak agar lukanya tidak mengeluarkan darah lagi. Kegiatan ini rencananya akan terus dilakukan hingga wilayah Trenggalek turun hujan sehingga tidak lagi mengalami kekeringan,” pungkasnya.(ase)



















