Selecta, Taman Bunga yang Menyimpan Jejak Bung Karno dan Sejarah Bangsa

Selecta, Taman Bunga yang Menyimpan Jejak Bung Karno dan Sejarah Bangsa
Destinasi wisata kolonial yang ada di Selecta Batu bukti saksi bisu perjalanan bangsa.(arief/sejahtera.co)

Batu, SEJAHTERA.CO – Di balik hamparan taman bunga warna-warni dan wahana-wahana ceria yang mengundang tawa pengunjung, Taman Rekreasi Selecta menyimpan kisah yang lebih dalam—kisah yang tak sekadar tentang hiburan, tapi juga tentang babak penting dalam sejarah bangsa.

Berlokasi di dataran tinggi Batu, Jawa Timur, Selecta berdiri megah dengan latar pegunungan Panderman, Arjuno, dan Welirang yang mengapitnya.

Sejuk udaranya, tenteram suasananya. Tak heran jika pada masa Hindia Belanda, tempat ini menjadi pelarian favorit para elite kolonial.

Read More

Didirikan pada tahun 1928 oleh warga negara Belanda, Selecta awalnya dirancang sebagai tempat peristirahatan kelas atas—jauh dari bising kota, dekat dengan keindahan alam yang murni.

Baca Juga :Proyek Fisik di Blitar Mandek hingga Akhir Juli, PUPR: Terkendala Aturan Baru dan Arahan KPK

Namun sejarah mencatat, Selecta bukan hanya milik masa kolonial. Pada awal kemerdekaan, tempat ini menjadi bagian dari lembar penting perjuangan Indonesia.

Salah satu bangunan ikoniknya, Villa Bima Sakti yang dulunya bernama De Brandarice, pernah menjadi tempat peristirahatan Presiden Soekarno.

Arsitektur kolonial bangunan ini masih dipertahankan hingga kini, dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Dalam sebuah catatan tangan yang kini diabadikan dalam bentuk prasasti di taman bunga, Bung Karno menulis pada 1 Maret 1955:

“Kenang-kenangan pada Selecta tetap hidup dalam ingatan saja. Bukan sadja karena tamasja jang indah, tetapi djuga karena di Selecta itu beberapa putusan penting mengenai perdjoangan Negara telah saja ambil.”

Baca Juga :Bejat, Pria Paruh Baya di Ponorogo Setubuhi Anak Tetangganya Selama 3 Tahun

Tak hanya Bung Karno, Mohammad Hatta juga tercatat pernah menginjakkan kaki di tempat ini. Jejak dua tokoh proklamator itu menjadi bukti bahwa Selecta lebih dari sekadar taman bermain—ia adalah tempat yang pernah menyaksikan diskusi dan pengambilan keputusan penting bagi Republik yang baru lahir.

Direktur Utama PT Selecta, Pramono, menyadari betul nilai sejarah yang terkandung di balik setiap sudut taman. “Kami ingin masyarakat tidak hanya datang untuk liburan, tapi juga pulang dengan membawa cerita dan pengetahuan tentang sejarah Selecta,” ujarnya, Senin (28/7/2025).

Dalam semangat pelestarian, pihak manajemen pun mengambil langkah nyata. Bangunan tua di sisi utara kolam renang dewasa yang nyaris terlupakan kini telah dipugar dan difungsikan kembali sebagai kamar ganti, ruang bilas air panas, hingga gudang wahana.

Pendekatan restorasi pun tak sembarangan, arsitektur heritage dipilih demi menjaga keaslian dan harmoni sejarahnya.

Baca Juga :Lestarikan Wayang dan Dolanan Tradisional, Anak-anak Rudeka jadi Penjaga Budaya

Di kolam renang dewasa, papan seluncur klasik dari kayu ulin yang hampir berusia satu abad masih berdiri gagah.

Ia bukan sekadar wahana lama, tetapi simbol keabadian memori yang terawat. Begitu juga bangunan lawas seperti Hotel Selecta, Selecta 1, dan Restoran Asri, semuanya tetap berdiri sebagai penjaga waktu.

Selecta kini menapaki babak baru. Dari taman bunga yang memesona hingga situs sejarah yang menginspirasi, ia menjelma menjadi destinasi wisata edukatif yang menyatukan alam, hiburan, dan sejarah dalam satu pelukan.

Baca Juga :BEN Carnival 2025 di Kota Blitar Undang Puteri Indonesia dan Dihadiri Para Menteri

Di setiap langkah, pengunjung tidak hanya menyusuri jalur-jalur berbunga, tapi juga menyusuri jejak para tokoh bangsa yang pernah berjalan di tempat yang sama, menjadikan Selecta sebagai taman kenangan Indonesia.(*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *