Pertahankan Adat Mandi Jamas Megengan, Filosofis Penyucian Diri dari Hal Buruk, Lestarikan Lintas Generasi

Pertahankan Adat Mandi Jamas Megengan, Filosofis Penyucian Diri dari Hal Buruk, Lestarikan Lintas Generasi

Kang Wito mengaku sebagai warga kelahiran Desa Jajar, Mandi Jamas Megengan memiliki nilai filosofis untuk membersihkan diri sebelum memasuki Ramadan. Sementara Landha adalah media yang diyakini para pendahulu untuk membersihkan diri. Sebab saat itu perlengkapan mandi belum semodern sekarang.

“Zaman dulu orang Jawa belum memakai sabun atau sampo untuk mandi. Selain sebagai penolak energi negatif, juga untuk membersihkan diri,” jelasnya.

Kegiatan itu merupakan salah satu dari rangkaian prosesi adat. Kegiatan adat istiadat itu ditutup dengan prosesi tradisi megengan yang belakangan disebut megengan show. Prosesi itu menyimpan nilai filosofis pemanjatan doa kepada Sang Pencipta.

Read More

Megengan Show sendiri juga bertujuan melestarikan budaya maupun tradisi yang sejak lama berkembang di masyarakat selama bulan puasa. Seperti Salalahuk atau syair selawat yang biasanya dilantunkan usai salat tarawih.

Adat istiadat warisan leluhur itu sampai kini masih lestari. Meskipun di tengah gempuran arus globalisasi dan modernisasi, budaya itu terus langgeng lebih dari setengah abad. Regenerasi pun dilakukan untuk mengenalkan kepada kawula muda agar adat istiadat warisan nenek moyang itu tak termakan waktu.

Ini salah satunya dilakoni Jamilatun, salah satu warga yang rutin mengikuti prosesi Mandi Jamas tersebut. Menurutnya ritual itu sebagai cara membersihkan diri dari segala kotoran sebelum memasuki bulan suci Ramadan.

Di tengah hiruk pikuk modernisasi seperti saat ini, dia mengaku tidak minder dan terus antusias untuk meneruskan budaya warisan leluhur Mandi Jamas Megengan.

“Sejak kecil, orang tua saya sudah mendidik untuk berpuasa ketika masuk bulan suci Ramadan. Dan, cara untuk menyucikan diri, yakni dengan melaksanakan adat Mandi Jamas. Dari latar belakang itu, saya pun antusias untuk terus melanjutkan adat istiadat dari warisan para leluhur,” kata Jamilatun.(*)

Reporter: Angga Prasetya

Editor: Dhita Septiadarma

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *