Selain materi, alasan utama buka usaha tambal ban online juga karena kemanusiaan. Ketika Covid-19 ada pembatasan kegiatan di malam hari. Tukang tambal ban banyak yang tutup ketika malam hari.
Padahal ketika ban bocor, keberadaan tukang tambal ban di jalan menjadi solusi. “Kasihan saja, gimana kalau ada motor atau mobil di malam hari tiba-tiba bocor ternyata sulit mencari tukang ban. Dari situlah niat untuk membantu muncul,” katanya.
Lambat laun ternyata usahanya mulai jalan. Ini karena didukung banyak yang testimoni merasa terbantu ketika ban bocor di malam hari.
Nah tak lupa kadang konsumen mengunggah lengkap dengan nomor yang bisa dihubungi. “Alhamdulillah sekarang usaha sudah jalan. Paling banyak panggilan ketika malam hari ketika tambal ban pinggir jalan tutup,” katanya.
Untuk tarif, katanya bervariasi. Antara siang dan malam berbeda. Untuk motor ketika pagi hingga sore hari Rp 25 ribu. Sementara malam hari Rp 30 ribu. Untuk mobil rata-rata Rp 60-70 ribu.
Jasanya mulai mencopot, tambal sistem tubeless dan memasangnya kembali. Nah, saat ini dari usahanya bisa meraup keuntungan bersih Rp 150 ribu. Biaya yang mesti dilakukan hanya beli BBM Rp 10 ribu. “Paling banyak motor dan dipanggil ketika malam hari,” katanya.
Selama menjalankan usahanya, tak sedikit para pengendara yang memberi uang lebih. Meski sempat ditolak, tetap memaksa untuk menerima. Alasannya sebagai tanda terima kasih sudah dibantu dan mau dipanggil ketika malam hari.
Dari usahanya itu bisa menghidupi keluarga besarnya. Bahkan hasilnya bisa untuk renovasi rumah.
Reporter : Abdul Aziz Wahyudi



















