Nenek Pedagang Tikar Keliling asal Lamongan, Hari Tua Tetap Pilih Berjualan di Jombang

Nenek Pedagang Tikar Keliling asal Lamongan, Hari Tua Tetap Pilih Berjualan di Jombang

Jombang, SEJAHTERA.CO – Bekerja di hari tua tetap dilakukan oleh salah satu nenek asal Kabupaten Lamongan. Setiap hari dia berkeliling menjual tikar dengan berjalan kaki. Meski anaknya meminta untuk berhenti bekerja, dia tetap menjalani rutinitas tersebut untuk mengisi hari tuanya.

Siang ini terik, panas matahari terasa seperti berada tempat di atas kepala. Seorang perempuan tua berjalan sambil menggendong tikar pandan di punggungnya.

Menyusuri Jalan KH Wahid Hasyim Jombang menuju Alun-alun Jombang. Sempat berhenti dan duduk di trotoar perempatan barat Alun-alun sambil menghilangkan dahaga.

Read More

“Setiap hari keliling Jombang, mulai dari Pasar Legi terus saja jalan muter. Ini menawarkan tikar pandan,” kata Asma (68), Selasa (16/1/2024).

Hampir setiap hari warga Kecamtan Ngimbang, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur itu singgah ke Jombang untuk menjajakan tikar pandan. Dengan cara berjalan kaki sambil menggendong tikar diikat pada punggungnya dengan sebuah kain jarit atau kain batik.

Kain jarit sudah terlihat sangat lusuh. Seperti membuktikan, bahwa Asma telah memanfaatkan kain selama puluhan tahun untuk mengikat barang dagangan.

“Saya sudah jualan begini sebelum punya cucu. Tepatnya saat bapaknya anak-anak sudah tidak ada meninggalkan kami,” kata Asma sambil tersenyum simpul. Menegaskan bahwa dia telah menerima segala jenis takdir, meskipun getir.

Pikirannya mengingat ke masa lampau, saat pertama kali nekat jual tikar keliling mengikuti jejak bibinya. Semenjak ditinggal mati sang suami puluhan tahun lalu, ia memutuskan tidak menikah. Menjadi orang tua tinggal untuk kelima anaknya.

“Suami saya meninggalkan saya dan ke lima anak kami, saat itu paling tua masih SMA dan paling kecil  TK,” tuturnya.

Dalam pikirannya saat itu bukan lagi menikah supaya ada yang menghidupinya sekaligus anak-anak. Akan tetapi bagaimana dia berjuang semaksimal mungkin untuk memberikan kehidupan yang layak bagi kelima buah hatinya.

“Waktu itu anak-anak masih kecil, bimbang sebenarnya, mereka membutuhkan saya sebagai ibunya di rumah. Tapi saya harus mencukupi perekonomian, sekolah anak-anak,” bebernya.

Sekarang semua anaknya sudah berhasil ia sekolahkan hingga tamat SMA. Saat ini mereka sudah berumah tangga dan memiliki keluaraga masing-masing.

“Cucu saya sudah ada yang lulus SMA, ada yang SMA, paling kecil SD kelas 5,” sebutnya.

Ia mengaku sudah sering ditegur anaknya supaya berhenti berjualan. Tapi karena alasan ekonomi dan rasa bosan yang tidak bisa diatasi.

Nenek tua yang harusnya istirahat di rumah itu ngotot tidak ingin merepotkan anaknya dan terus berjualan.

“Sebenarnya anak saya melarang, ya bagaimana namanya ngak punya dan bosan juga di rumah. Cucu udah pada besar-besar,” jelasnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *