“Kalau saya punya lo, ngapain juga saya jualan tikar,” imbunhnya.
Dari senyumnya setiap kali bercerita, perempuan tua ini seperti sudah siap menghadapi apapun persoalan yang sedang dan akan dia hadapi. Dengan lapang dada.
Bagaimana tidak, setiap hari dia bersama bibinya menempuh perjalanan dari Kabupaten Lamongan menuju Jombang dengan menumpang truk besar. Membayar Rp30 – Rp35 ribu sekali jalan.
Naik dari daerah tempat tinggalnya kemudian turun di Pasar Legi. Lalu singgah di sebuah surau tak jauh dari situ untuk menitipkan barang dagangan.
“Hari ini saya bawa 13 tikar sedikit saja, karena belakangan ini sepi. Sebanyak 10 tikar saya tinggal di Musala dan 3 tikar saya bawa keliling,” sebutnya.
Hari ini dia sudah berkeliling mulai dari Pasar Legi, menuju Jalan KH Wahid Hasyim, kemudian ke Alun-alu dan beristirahat sejenak.
“Tapi ini tadi belum laku sama sekali saya berhenti di sini istirahat. Lihat banyak sekali motor itu lo saya takut,” ucapnnya.
Memang siang itu perempatan barat Alun-alun sedang sangat sibuk. Ratusan kendaraan menumpuk, semuanya tidak sabar untuk segera menuju tujuannya masing-masing.
Terlihat suasana mulai lenggang dan terik siang mulai bersahabat, tidak sepanas sebelumnya. Asma hendak meneruskan perjalanan.
Setelah berjalan nanti ia kembali lagi ke Musala tempatnya menitip tikar sekalian salat dan tidur. Selanjutnya pulang ke Lamongan, tapi meninggalkan barang dagangan di musala untuk besok dijual lagi.
“Kalau masih ada saya titip dulu di Musala. Sekiranya habis saya bawa lagi besok, tapi kayaknya besok jual yang tersisa ini,” lanjutnya.
Untuk satu tikar ukuran besar ia membanderol Rp 90 hingga Rp 80 ribu, untuk ukuran kecil Rp60 hingga Rp50 ribu.
Penghasilan yang dia bawa pulang setiap hari tidak menentu. Kadang tidak membawa sama sekali. Terkadang Rp100 ribu sampai Rp300 ribu.
“Kadang belum habis gini saya sudah pulang, kadang Rp100 ribu sampai Rp300 ribu. Itu nanti uangnya diputar lagi untuk modal dan sebagian lagi untuk kebutuhan,” pungkasnya.
Kemudian tubuh ringkihnya meninggalkan trotoar, merapatkan gendongan dan kembali melempar senyuman tegar. Kembali berjalan menyusuri jalan.
Reporter : Agung Pamungkas



















