“Nah karena tren bertambah, kami juga mengimbau masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan menerapkan menutup, mengubur dan menguras atau 3 M. Ini untuk memutus perkembangbiakan nyamuk,” katanya.
Perempuan ramah ini menambahkan, meski ada peningkatan sampai kini belum ada laporan penderita yang meninggal. Namun ratusan kasus DBD itu ada yang menjalani rawat jalan ada pula yang harus mendapatkan penanganan serius dari petugas medis.
Pasalnya DBD penanganannya harus cepat. Jika saja terlambat, nyawa menjadi taruhannya. Dalam dunia istilah kedokteran, fluktuasi ciri khas DBD mirip pelana kuda.
“Nah agar tak parah, jika demam tak juga turun harus dibawa ke dokter. Semakin cepat semakin bagus dan cepat sembuh,” katanya.
Saat ini lanjutnya, pihaknya sudah menyiagakan tenaga dan fasilitas kesehatan yang memadai. Untuk rumah sakit berskala besar di bawah naungan Pemkab Blitar ada dua. Yakni RSUD Ngudi Waluyo Wlingi dan RSUD Srengat. Sementara puskesmas dan puskesmas pembantu atau pustu juga sudah siap. (ziz)



















