“Pemicunya kebakaran banyak, ada faktor alamiah seperti misalnya gesekan antara ranting dan cabang yang dominan terjadi di hutan-hutan yang sangat kering. Kemudian kesengajaan ataupun kelalaian manusia,” ujarnya.
Untuk itu, khusus faktor pemicu yang disebabkan kelalaian, Triadi mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian hutan. Banyak langkah yang dapat dilakukan, seperti misalnya terlibat dalam aksi penghijauan hingga tidak membuang puntung rokok sembarangan yang berpotensi memicu terjadinya kebakaran.
“Kemudian kita juga pasang penanda, seperti misalnya kita pasang rambu-rambu rawan Karhutla terutama bersama Perhutani, karena kawasan hutannya 45 persen lebih adalah kawasan Perhutani. Jadi kepada masyarakat kami himbau untuk lebih berhati-hati saat beraktivitas yang berpotensi memicu terjadinya kebakaran,” pungkasnya.
Untuk diketahui, secara umum di Jatim terdapat 74 zona musim, dimana awal kemarau pada Mei mendominasi hingga 64,9 persen. Meskipun begitu, terdapat daerah di Jatim yang memasuki kemarau pada April, sebanyak 27 persen dan sisanya 8,1 persen pada Juni. Sementara, puncak musim kemarau mulai terjadi pada sebagian wilayah di Jatim pada Juli sebesar 9,5 persen dan paling banyak pada Agustus 75,7 persen. Sisanya 14,9 persen diperkirakan terjadi pada September.
Reporter : Angga Prasetya
Editor : Dhita Septiadarma



















