Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Ditengah kuatnya arus globalisasi yang membawa perubahan signifikan dalam kehidupan tak menyurutkan langkah masyarakat Teluk Prigi Trenggalek untuk mempertahankan eksistensi budaya maritim.
Lewat labuh laut larung sembonyo, masyarakat nelayan terus eksis mempertahankan budaya yang diperkirakan sudah berlangsung sejak era 1985.
Hingar bingar kegiatan ritual adat labuh laut larung sembonyo yang diselenggarakan masyarakat nelayan Desa Tasikmadu dan sekitarnya di Kecamatan Watulimo baru saja rampung.
Seluruh masyarakat nelayan berserta masyarakat pada umumnya bahu membahu gotong royong untuk menyukseskan kegiatan yang rutin diselenggarakan saban tahun, tiap bulan selo pada penanggalan jawa.
Masyarakat banyak terlibat langsung dalam kegiatan itu. Mulai jadi panitia labuh laut hingga menjadi peserta dalam rangkaian kegiatan. Seperti misalnya peserta arak-arakan yang mengikuti kirab saat tumpeng agung beserta pernak-perniknya dibawa dari area Kecamatan Watulimo menuju pelabuhan.
Selain terlibat dalam kegiatan itu secara langsung, tak sedikit masyarakat dari berbagai kalangan turut menyemarakkan kegiatan itu. Dalam waktu singkat, ratusan hingga ribuan masyarakat tumplek bleg jadi satu. Mereka ikut menyemarakkan kegiatan adat yang jadi iconik masyarakat di daerah itu.
Kompaknya masyarakat dalam kegiatan nguri-nguri budaya itu bukanlah hal baru. Dari berbagai cerita yang berkembang di masyarakat, kompaknya masyarakat dalam menyongsong kegiatan yang diperkirakan berlangsung sejak 1985 itu sudah turun-turun. Kehadiran masyarakat itu sebagai wujud dukungan dalam menjaga eksistensi budaya maritim tersebut.
“Kegiatan ini sudah berlangsung turun temurun,” kata Suparlan, tokoh masyarakat setempat.
Kegiatan yang juga menyedot antusiasme para wisatawan itu merupakan wujud syukur masyarakat nelayan atas tangkapan hasil ikan yang melimpah. Selain itu, kegiatan adat itu sebagai ihtiar masyarakat dalam menjaga keberlangsungan kelestarian alam sehingga memberikan imbal balik dampak kesejahteraan kehidupan.
“Kegiatan labuh laut larung sembonyo ini lebih kepada wujud syukur para nelayan atas rezeki tangkapan yang melimpah dan doa harapan tidak ada musibah, kecelakaan dan bencana lainnya. Nelayan sehat, nelayan selamat dengan tangkapan melimpah,” imbuhnya.
Dari cerita turun temurun yang berkembang di masyarakat, larung sembonyo mulanya berawal dari kisah pernikahan Tumenggung Yudha Negara. Tumenggung yang disebut berasal dari Kerajaan Mataram itu menikah dengan Putri Gambar Inten, Putri di Tengahan.
Dalam cerita lokal masyarakat, tumenggung yang terkenal memiliki kesaktian itu berhasil membuka wilayah Teluk Prigi yang dulunya masih jadi alas dan terkenal angker.
“Pernikahan keduanya pada hari Senin Kliwon pada penanggalan jawa. Raden Tumenggung minta, setiap tahunnya diperingati dengan acara labuh larung sembonyo,” ujarnya.
Berhasilnya utusan Mataram dalam membabat alas Teluk Prigi sehingga saat ini dapat dimanfaatkan sebagai kawasan permukiman itu kemudian oleh masyarakat setempat diperingati lewat kegiatan sedekah laut sebagai bentuk penghormatan.
Selain wujud syukur kepada sang pencipta, kegiatan untuk memperingati peristiwa sejarah itu saat ini juga menjadi bagian dari penguatan potensi daerah.



















