Dikatakan oleh Rifki bahwa hasil panen padi ini nantinya akan dibeli oleh Yatim Mandiri dan disalurkan pada anak yatim dan duafa binaan Yatim Mandiri.
“Manfaat dari program Lumbung Pangan Mandiri ini, tidak hanya akan dirasakan petani saja, tapi juga adik-adik yatim dan duafa merasakan manfaat tersebut,” jelasnya.
Rifki mengungkapnya bahwa program pemberdayaan petani ini, bukan pertama kali dilaksanakan di Kota Kediri. Sebelumnya di tahun 2022 Yatim Mandiri juga mengadakan program serupa di kelurahan yang sama, yaitu Kelurahan Pojok.
“Program ini memang kami keliling, tidak hanya di Kota Kediri, tapi juga di Kabupaten Kediri. Kami pilih kembali Kelurahan Pojok pada program ini dikarenakan komunikasi yang baik dan amanah luar bisa dalam mengelola dana zakat ini,” ungkapnya.
Kedepannya Rifki mengatakan pihaknya akan terus berkoordinasi dengan DKPP Kota Kediri untuk dapat mengembangkan program Lumbung Pangan Mandiri di Kota Kediri agar bisa menyasar lebih banyak lagi kelompok tani dari kelurahan-kelurahan lainnya.
Sementara itu, Moh. Yusuf selaku Ketua Kelompok Tani Subur Kelurahan Pojok mengatakan bahwa ia merasa bersyukur kelompok taninya dapat kembali dipercaya untuk mengelola dana zakat dari Yatim Mandiri.
“Kami petani kelompok tani subur sangat berterima kasih, karena bisa bersama-sama melakukan program Lumbung Pangan Mandiri yang memiliki banyak manfaat, selain untuk kami para petani juga untuk anak-anak yatim dan duafa,” ungkapnya.
Adanya program Lumbung Pangan Mandiri ini, menurut Yusuf juga sangat membantunya dalam masalah permodalan dalam memulai penanaman.
“Ketika ada program Yatim Mandiri ini, pertanian kita bisa berjalan dengan lancar dan kita juga bisa memberikan zakat pertanian pada anak-anak yatim dan duafa,” ungkapnya.
Kegiatan launching Lumbung Pangan Mandiri juga turut dihadiri langsung oleh Ketua Dewan Pembina Yatim Mandiri Yusuf Zain, Direktur Utama LAZNAS Yatim Mandiri Sholahuddin, Kepala Regional Yaim Mandiri Nur Hasan Mustofa, perwakilan tim Yatim Mandiri Pusat dan seluruh tim Yatim Mandiri Cabang Kediri.
Editor: Dhita Septiadarma



















