Kerja keras itu bukan tanpa alasan, mengingat faktor lingkungan Bumi Menak Sopal yang memang sudah akrab dengan produk susu sapi.
Sebab Trenggalek menjadi daerah penghasil susu sehingga produk yang ditawarkan Edy harus benar-benar memiliki segmentasi berbeda. Untuk itu, Edy-pun terus berinovasi dan tak pupus belajar dari kesalahan.
“Senangnya kalau produk laku, harapannya bisa menyerap tenaga kerja banyak. Tapi kalau pas ada komplain, iya terpaksa kita tarik dan dibuang,” ujarnya.
Soal kualitas produk tak bisa ditawar mengingat produk itu murni tanpa bahan pengawet sehingga memiliki masa yang terbatas. Selain itu, dia juga belajar soal manajemenisasi, marketingnya hingga rantai distribusi pasokan.
Mengingat produk-produk susu ladok bukan hanya menghiasi pasar di Trenggalek, namun sudah merambah pasar luar daerah, seperti misalnya di Kabupaten Ponorogo.
“Kita tidak pakai bahan pengawet. Untuk varian susu ladok ada rasa original, cocopandan, vanila, stroberi dan varian lainnya,” kata dia.
Selain soal kualitas produk, Edy juga menonjolkan aspek lokalitas produknya. Ia mempromosikan susu ladok sebagai produk khas Pegunungan Argo Lawe, dengan cita rasa yang unik dan kaya akan nutrisi.
Susu ladok dari Pegunungan Argo Lawe bukan hanya sekadar produk, tetapi juga simbol dari kerja keras dan dedikasi untuk mengangkat potensi lokal ke kancah yang lebih luas.
Dengan merebaknya produk lokal daerah ke kancah yang lebih luas itu diharapkan Edy membawa dampak positif bagi perkembangan desanya. Apalagi tak sedikit masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari peternak sapi perah.
“Kami bangga bisa memperkenalkan potensi lokal Trenggalek ke luar daerah. Ini bukan semata hanya soal bisnis, tapi juga soal kebanggaan akan daerah kita sendiri,” pungkasnya.
Reporter : Angga Prasetya
Editor : Gimo Hadiwibowo



















