Baca Juga :Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun, Jamaah PMJ Berduka, Gus Lik Meninggal Dunia
Berkaca pada tahun sebelumnya, ada sebanyak 56 desa dari 152 desa dan 5 kelurahan di Trenggalek terdampak kekeringan.
Kekeringan tahun lalu terbilang parah, mengingat seluruh kecamatan di Bumi Menak Sopal sebutan lain Trenggalek terdampak.
Melihat wilayah terdampak saat ini, akankah kekeringan tahun ini lebih parah dari tahun sebelumnya.
“Tahun lalu ada 56 daerah terdampak kekeringan, mudah-mudahan segera turun hujan sehingga warga tidak lagi mengalami kekeringan,” jelasnya.
Meskipun tidak mengalami kekeringan lagi jika hujan turun, warga dihadapkan dengan potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
Merujuk rilis BMKG, prediksi puncak musim hujan pada bagian Indonesia barat terjadi pada November – Desember.
Baca Juga :Jalin Silaturahmi Lewat Khutbah Jumat dan Tekankan Pentingnya Kerukunan di Tahun Politik
Wilayah yang akan mengalami puncak musim hujan pada November-Desember 2024 adalah sebanyak 303 Zona Musim atau 43,4 persen dari total Zona Musim yang meliputi Pulau Sumatra, pesisir selatan Jawa, dan Kalimantan.
Sementara terdapat pula sebanyak 250 Zona Musim atau 35,8 persen dari zona musim yang diprediksi akan mengalami puncak musim hujan pada Januari-Februari 2025 yaitu meliputi Lampung, Pulau Jawa bagian Utara, sebagian kecil Pulau Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan sebagian besar Papua.
Baca Juga :Fraksi DPRD Ponorogo 2024 – 2029, Lima Utuh, Dua Gabungan, ini Daftarnya
Masyarakat diimbau waspada potensi bencana hidrometeorologi. “Kami terus lakukan mitigasi bencana untuk meminimalisir dampak,” pungkasnya.



















