Sudarto mengungkapkan, sebenarnya Een masih baru menjadi warga Desa Purworejo lantaran sejak duduk dibangku TK sudah diajak orang tuanya pindah ke Tanjung Balai Karimun Provinsi Kepulauan Riau hingga SMA. Setelah lulus SMA, Een lantas mendaftar kuliah di Malang dan Madura, dan diterima di UTM.
Baca Juga :Dua Pemotor Bertabrakan, Satu Korban Meregang Nyawa, Begini Kronologinya
Usai diterima di Madura, Een kemudian pulang ke Tulungagung dan mengurus identitas KTP untuk tinggal di Tulungagung lantaran kakeknya sakit. Sejak saat itu, Een pun mulai tinggal di Tulungagung bersama kedua orang tuanya, namun ibu Een diketahui bekerja di Jakarta, sedangkan ayahnya mengurus lahan di Kabupaten Tulungagung.
“Mulai pertama Een kuliah di Madura, dia sudah tinggal di Desa Purworeno Kecamatan Sumbergempol Kabupaten Tulungagung. Jadi bisa dibilang masih baru menjadi warga di sini,” ungkapnya.
Terkait proses kepulangan Een, jelas Sudarto, tidak ada kendala, dimana Een bisa dipulangkan setelah pihak kepolisian melakukan otopsi terhadap jasad Een.
Baca Juga :Partisipasi Pilkada 2024 Minim, Ini Kata Pengamat Politik UBHI Tulungagung
Saat dipulangkan, Een berangkat dari Madura sekitar pukul 16.00 WIB dan baru tiba du rumah duka sekitar pukul 21.15 WIB dengan diiringi isak tangis keluarga.
Pasalnya, Een sendiri merupakan anak tunggal yang menjadi satu-satunya harapan orang tuanya, karena ayah Een bekerja mengurus lahan pertanian dan ibunya bekerja di Jakarta.
Kerja keras kedua orang tua Een itu dilakukan agar Een bisa menempuh pendidikan setinggi-tingginya agar kelak bisa sukses.
“Orang tua Een ingin agar dia bisa sukses. Een sudah dimakamkan tadi malam di pemakaman umum Pati Desa Purworejo. Untuk ibu Een masih dalam perjalanan pulang dari Jakarta,” pungkasnya.



















